Museum Bale Indung Rahayu


Halo kawand, 
Perjalanan yang sudah gue lalui setahun yang lalu ini mungkin terbaca cukup basi karena di tahun ini baru bisa dicurahkan, tapi tak apa tak mengapa izinkan sahaya menuangkan cerita di kertas putih, di dalam blog yang sudah bersawang saking jarangnya ditengok.

Perjalanan kala itu dari Bekasi menuju Bandung singgah di Purwakarta. Ya, gue menggunakan kereta lokal menuju Purwakarta. Ingin merasakan bagaimana ke Bandung dengan ongkos sangat terjangkau tapi memang ya sangat menyita waktu. 
Berada di Purwakarta tidak serta merta membuat gue kayak ada di dimensi lain, karena sebelumnya gue pernah melakukan perjalanan ga jelas dengan ke Purwakarta cuman biar makan sate Hj Yetty yang terkenal itu gue rela ke Purwakarta PP.

Yang menarik dari perjalanan ke Purwakarta ini adalah gue mampir ke museum yang sejatinya baru dibuka beberapa bulan sebelumnya, jadi memang masih baru banget ya. 
Namanya Museum Bale Indung Rahayu (Tempat Kemuliaan Ibu).
Dimana kita akan belajar mengenal seorang Ibu mulai dari mengandung sampai dia meninggal, bagaimana adat dan kebiasaan Sunda diterapkan dalam keseharian.

Dikemas dengan konsep museum digital yang sangat epik cuman emang pas gue dateng masih proses renovasi bagian belakangnya. Entah karena baru atau memang tersedia pemandunya, yang jelas akan ada pemandu geulis berkebaya sunda yang akan memandu kamu mengelilingi museum. 

Museum ini dibagi menjadi beberapa bagian. 
Di bagian pertama dimana Sang Hyang (Ibu) menghembuskan nafas dalam rahim perempuan, menjadikan kehidupan dalam perut Ibu, maka itu disebut tempat kemuliaan. Disinilah asal muasal kehidupan itu berasal. 
Lorong gelap dengan kanan kirinya fase kehamilan Ibu, lorong ini ibarat menuju rahim Ibu.






Dijelaskan juga bagaimana Adat Istiadat Sunda memperlakukan seorang anak mulai dari Janin hingga tumbuh. 
Bagaimana anak dididik dan tahapannya satu per satu, langkah per langkah.


Yang menarik menurut gue sih bagaimana kata-kata yang diucapkan paraji ketika seorang anak sudah dipotong plasentanya, dibungkus dan dibersihkan lalu diberikan saran atau seperti doa kepada si anak.

Setelah anak lahir dan tumbuh menjadi besar, maka saatnya mengenalkan ia pada permainan anak sebayanya. Permainan-permainan yang mengandung makna mendalam mengenai Sang Hyang dan alam bekerja. 




Di bagian kedua ini, ketika si Anak tumbuh dan bermain, terdapat pengenalan juga permainan sunda yang dimainkan anak-anak. 
Di bagian ini selain dikenalkan permainan anak, dikenalkan juga rumah adat, alat-alat yang dipakai untuk bekerja dan rumah hewan.
Alat musik yang dipakai dan beberapa grup musik terkenal pada masanya.

Bagian selanjutnya atau bisa gue bilang bagian terakhir Kematian. 
Bukan sebuah momok menakutkan memang, dikemas dengan baik dan mengangkat nilai-nilai luhur nenek moyang bagaimana kematian pasti akan datang dan kita akan menuai apa yang kita tabur.



Kita juga akan dikenalkan bagaimana alam bekerja, terdapat kepercayaan bahwa ada hutan-hutan yang memang dilindungi oleh Tuhan, dimana didalamnya terdapat tubuh suci kehidupan. Aku, kamu dan kita semua harus menjaganya sampai-sampai hanya juru kunci yang boleh masuk ke dalam hutan tersebut. 
Bila kita melanggar dan masuk tanpa santun maka bisa dipastikan kita akan tersesat. Ibarat dalam kehidupan ini, kita tentulah harus menghargai norma baik, kita paham betul apa salah apa benar. Menjadi manusia tidak membuat kita serta merta menjadi kebenaran lalu hidup seenaknya, itulah tersesat.

Menuju penutupan akan ada makanan khas sunda dan alat masak yang dipakai dahulu oleh para leluhur juga bagaimana falsafahnya dalam kehidupan. 
Yap, sampai sini sisanya masih dalam tahap renovasi jadi engga bisa berkeliling lebih lama lagi. Tapi sekiranya ilmu yang didapat dari Museum ini sungguhlah menarik, dari lahir gue tinggal di Bekasi, salah satu tanah Pasundan. Meski tidak serta merta menjadikan gue rakyat Jawa Barat yang mengerti seutuhnya bahasa daerah dan adat istiadat mendarah daging, seenggaknya ada rasa kebanggaan gue lahir di tanah Pasundan dengan nilai-nilai luhurnya.







No comments:

Post a Comment