Taman wisata berdarah


Mimpi mengenai petualangan mencekam sekali lagi.

Saat itu panas terik, dengan celana pendek berwarna coklat muda, kemeja safari senada dan topi bambu aku layaknya seorang petualang sejati. 
Kali ini aku berada tepat disebelah sungai mengalir, diantara hutan bambu yang berdesir kena angin. 
Berjalan menyusuri sungai hingga menemukan taman binatang dengan hewan-hewan elok yang ada disana. Aku melihat gajah, badak, jerapah dan lainnya. Melihat tawa dari pengunjung yang ada.
Tak berapa lama ada seorang guide dengan anak-anak usia TK berjalan dengan wajah riang gembira menunjuk ke arah sana dan sini, sesekali gurunya menarik tangan anak yang perhatiannya teralihkan ke salah satu binatang dan enggan berjalan maju. 

Melihat sekeliling aku kemudian duduk dan melihat penjual gulali yang ada diseberangku, sedang menjajakan dagangannya dengan sumringah. Bapak dan anak membelinya juga dengan bahagia.

"Dor!" letusan senapan tiba-tiba terdengar, aku menoleh dan kulihat beberapa pria berbadan tegap dan kekar memegang senjata mengarahkan senjatanya ke langit. 
Keceriaan seketika berubah menjadi kecaman, kami masih melihat dan belum tau ada apa. 
Apakah ini salah satu atraksi taman binatang?
Bukan.. kami salah sangka.
Tiba-tiba saja pria-pria bersenjata itu mengarahkan senjata secara acak, menembakkannya ke segala penjuru, tidak perduli kena atau tidak, yang penting tembak.
Aku takut dan membeku sesaat lalu berlari menjauh. 
Tembakan kian brutal, teriakan kian terdengar, tangisan mulai bermunculan. Anak-anak TK itu segera duduk ketakutan, beberapa berlari tak tentu arah. Guide dan guru mereka entah terluka atau mati yang jelas mereka tidak punya lagi acuan.

Aku terus saja berlari, sebagai tokoh utama di mimpi itu aku sadar aku tidak mungkin mati. Jadi ya secara ajaib aku menemukan kembali hutan bambu dengan sungai yang mengalir. Berlari terus kian kencang. Suara tembakan kian menjauh dariku, tersengkat kaki sendiri aku jatuh kedalam sungai itu.

Begitu jatuh aku memejamkan mata, ketika aku membuka mata dan nafasku sudah tidak kuat aku segera berenang ke permukaan. 
Ah, lagi-lagi disini. Aku pernah memimpikan tempat ini dan kini kembali lagi. Semacam tempat pelarian meskipun sejarahnya tidak menyenangkan.

Tempat ini semacam lautan kecil dan ada pembatas ke lautan besarnya dengan pemecah ombak yang menjadi pembatas. Aku melihat sekelilingku disini ada kebahagiaan yang lain, sempat berfikir ├Ąpakah aku disurga?"
tapi tidak banyak wisatawan disini seperti terakhir aku mengunjunginya. Aku beranjak naik dari lautan kecil menuju pesisir. Melihat begitu banyak orang bersenang-senang. Pergi ke salah satu warung memesan es kelapa, disana tidak hanya ada aku tapi terdapat sekelompok pemuda yang mencuri-curi melihat ke arahku.
Setelah menghabiskan es kelapa aku berjalan ke arah mereka, melihatku berjalan kearah mereka, mereka menunduk. 
Aku melewatinya ketika mereka menunduk dan melihat ada jalan kecil ke bawah, ah.. ini pembatas, jalan kecil ini sudah mulut lautan luas.
Aku berjalan ke jalan kecil, seketika ombak menyergap dan aku terseret.
Sial.

Aku terbangun dan badan pegal-pegal, percayalah pegal ini akan sampai sore ini.

No comments:

Post a Comment