Panggilan pertama ngebuat gue gak percaya sama apa yang gue lakuin, sama apa yang ada pada diri gue sehingga bisa dipanggil.
Well, tentunya lu pada masih bingung apa itu HHK. Tenang jangan bingung, di part 3 gue bakal jelasin :D

Bisa dibilang Interview pertama yang gue jalani adalah di Hok*ben, salah satu retail makanan jepang terbesar yang lagi mau lebarin sayapnya ke Singapura. Pertama kali interview itu rasanya bagaikan dihadapkan pada juri x-factor yang punya kripik pedes, HRD-nya terkesan menyepelekan peserta dan pada akhirnya saking berdegupnya jantung gue, gue memilih senyum sebagai pelampiasan dan dari situ mulai timbul bahwa gue gak bakal diterima. Jadi dihari berikutnya gue langsung meluncur ketempat kedua gue interview dan tes. Letaknya di Cawang, nah disinilah gue belajar sangat banyak sekali dari temen-temen seperjuangan dimana rata-rata mereka sudah berpengalaman.
Gue belajar hal ini nih :
"Gak usah gugup, gak usah tegang. Enjoy aja kalo ngejalanin, jawab sejujurnya. Jujur itu kan gak dosa. Toh ini bukan skripsi yang kalo gagal harus ngulang tahun depan. Kalo disini loe gagal tandanya Tuhan gak pengen loe ada disini. Dia punya tempat yang lebih baik"

Impian terbesar dari setiap manusia adalah menemukan mimpinya dan langkah awal gue dalam mewujudkan impian gue untuk bisa kuliah lagi (amin) adalah bekerja dahulu mencari segepok modal :D

Well dalam bekerja menemukan segepok uang pun gue gak anggep sembarangan, mungkin kalian bisa sebut gue pemilih tanpa ampun, kualifikasi tanpa batas ataupun sok jual mahal, tapi gue yakin hal yang gue yakini ini adalah atas seijin Tuhan :D

Kriteria gue dalam mencari pekerjaan adalah kerjanya dibidang yang emang gue geluti; akuntansi. Gak boleh jauh dari itu bahkan melenceng, cukup gue jadi pelancong untuk urusan alam, urusan ilmu jangan sampe. Yaaa meskipun gue gak pandai-pandai banget dalam hal akuntansi dan menyenangi beberapa mata kuliah yang hampir gak ada hubungannya dengan akuntansi tapi gue merasa bahwa ilmu yang gue tanem selama 4 tahun di bangku kuliah ini gak boleh terbuang sia-sia, setidaknya langkah awal ini harus diawali dengan semangat menggebu tentang penyaluran ilmu terpendam ini. Huehuehue..

“hah? 3 kata sakti?” tentunya aku kaget karena tiba-tiba saja tanteku mengatakan sesuatu yang tidak biasa. 3 Kata Sakti?

Sore itu kami sedang menunggu diteras rumah, menunggu ibuku menjemput untuk berlibur bersamanya. Liburan kali ini adalah bagian ibuku, setelah sebelumnya ibu mengundur-undur sampai aku mengatakan dengan keras bahwa tidak sekarang maka tidak ada hari esok. Ibuku terlalu banyak mengatakan alasan dengan pekerjaannya, maka aku harus mengatakan bahwa aku juga tidak punya banyak waktu untuk mereka yang tidak pernah menyempatkan waktu untukku.

“jangan kaget begitu ah..” ucap tanteku sambil tersenyum

“ya gimana gak kaget, kita gak ngobrol apa-apa, tiba-tiba tante udah ngomong 3 kata sakti aja. Emang apaan sih itu? segitu saktinya sampe ada 3, apa karena ada 3 jadi sakti?” kali ini aku nyerocos tanpa henti. Menghentikan kegugupan bertemu dengan ibuku.

“ah, kamu ini kritis sekali. Kenapa tante katakan 3 kata sakti, karena kata-kata ini akan membuatmu juga sesamamu menjadi lebih berharga, akan membuat hidupmu penuh dengan kebahagiaan dan yang pasti akan membuat sekitarmu menjadi sesuatu yang lebih”
Aku tidak pernah mengerti bagaimana bisa manusia sehat mencuri dari yang berkekurangan. Seperti saat ini tanteku telah kecopetan, tas dan segala isinya telah hilang.

Aku menemui tanteku yang berniat naik kereta setelah pulang dari mengajar dikantor kepala stasiun Manggarai. Tanteku sadar kehilangan tasnya ketika dia hendak menelfon memintaku untuk menjemput.

Ohya, tanteku itu orang yang kuat, dia tidak pernah mau tunduk pada kekurangannya dan selalu menganggap dirinya normal. Bahkan dia beraktivitas seperti orang normal lainnya, bedanya sesekali dia minta bantuan petugas untuk membantunya.

“Bagaimana bisa kehilangan?” tanyaku, duduk disebelahnya. Masih dengan wajah tersenyum dia hanya menaikkan bahunya. Kini kami menunggu siapa tahu copetnya membuang tasnya dikereta dan hanya berniat mengambil uangnya saja.

“apa tidak aneh, mencuri dari orang buta?” sahutku lagi agak kesal, membuat petugas yang ada disana melirikku lalu melirik tante yang duduk tepat disebelahku
“bumi itu sebenarnya gak bulat” ucapku pada tante saat kami sedang duduk dihalte menunggu bus yang akan mengantarkan kami pulang setelah lelah berbelanja pakaian untuk natal.

“bulat kok, kayak tahu bulat” jawab tanteku sambil memakan tahu bulat yang baru saja kami beli

“tapi gak bisa dimakan” sahutku ketus, lagi lagi tanteku tersenyum lalu menyodorkan tahu bulat padaku, meski kesal aku menerimanya lalu memakannya

“tante gak lebih pintar daripada ponakan tante yang jenius ini. Tapi setidaknya tante mengerti ada maksud kamu mengatakan itu”

“bumi kotak bagaimana?” sahutku lagi
Aku bukanlah anak yang menyenangkan kalau kata tanteku seperti itu, katanya aku anak yang terlalu kritis untuk seusiaku. Dan kurasa itu bukanlah salahku, salah asuh mungkin. Boleh kan seorang anak menyalahkan orang tua disaat orang tua mulai menyalahkan anak atas tersitanya waktu mereka.

Sejak usia 5 tahun aku tinggal bersama tanteku, dia orang yang baik dan sangat penuh semangat. Bahkan kalau aku katakan, dia sangat bersemangat untuk ukuran berkekurangan sepertinya. Dia buta dan selalu meraba-raba jalanan dengan tongkatnya, kacamata cantik bertengger dimatanya. Pernah ketika kami sedang duduk berdua dibangku teras rumah aku bertanya kepadanya.
Liat dulu part 1-nya maaang


Begitu dia turun dari motor gue, akhirnya dia narik nafas dan mulai berbicara.

“Maafin gue yang gak bisa bales perasaan loe. Maafin juga karena gue, hubungan loe sama kakak loe agak merenggang, tapi gue mohon. Gue sayang banget sama kakak loe, gue mohon ijinin gue buat terus bareng kakak loe. Gue minta maaf banget” perasaan sedih tiba-tiba aja meliputi hati gue, sekarang siapa yang gak miris ngeliat cinta terpendam selama tiga tahun nangis didepan muka loe, minta ijin untuk pacaran sama cowok lain. Gue rasa gue adalah orang yang ‘sangat beruntung’ itu.
Gue gak jawab apa-apa, gue cuman pasang helm lagi dan starter motor. Melaju kencang menembus angin malam (setelahnya gue dikerokin sama Indra, thanks a lot ndra).

Kemudian gue banyak mikir, mikirnya gue gak lupa diselingi dengan emutan choki-choki dan petikan gitar Endah juga gak lupa sama percakapan Indra dengan dirinya sendiri.

“Mau gimanapun cinta yang terpendam itu salah loe rid, kan udah gue bilang ungkapin ungkapin”, kampret Indra nguliahin gue, tapi bener juga sih emang.

“cinta itu kayak bulu bulu halus ketiak, gak keliatan dan gak berasa kalo kita pake baju berlengan, tapi kalo lagi gak pake baju berlengan keliatan dan berasa banget”, udah mulai menjijikkan perumpamaannya

Cinta emang gak pernah salah, ya kalo Cinta disalahin kasihan dia dong. Kan hak dia bareng sama Rangga meski udah 12 tahun lewat. Okelah itu kisah yang lain. itu loh Love Life Li*e. Yang ini kisah gue, bukan gue mau curhat tapi okelah gue akuin gue mau curhat (meski ini kesannya gak gentle banget, tapi gue bakal berusaha gak nangis ketika menceritakannya. Dan meski gue nangis gue yakinin kalian bahwa kejantanan gue gak bakal berkurang karena curhatan gue).

Gue Ridwan gak pake Kamil dan bukan Rangga apalagi yang sedang mencari Cinta lewat find alumni. Cintanya gue tepat ada dihadapan gue. Cintanya gue ini teramat baik dan sungguh bagaikan malaikat turun ke bumi untuk menyapa manusia hina. Ya, meski gue gak bisa bilang dia seratus persen baik, tapi gue bisa pastikan cewek yang rapuhnya bagai rembulan dan cerianya bagai mentari yang menyinari setiap perjaka, dia adalah mahkluk yang menurut gue udah cukup ada satu aja, karena kalo ada banyak gue yakin gue termasuk yang disisihkan dari daftar mereka.

Hati emang gak pernah salah memilih, rasa sayang pun gak pernah salah atas kehadirannya, yang salah adalah ketika itu tidak pada waktu yang tepat, tidak dalam kondisi yang memungkinkan, dimana situasi sangat amat tidak mendukung. Dia mantan pacar kakak gue yang lebih keren kece dan tenang daripada gue. Mantan pacar doang terus masalahnya dimana? mungkin itu yang ada diotak kalian yang besarnya tidak lebih besar dari kepala kalian (ini jelas, karena kalo kebesaran rambutnya dimana coba?). Maka dari itu dari sinilah cerita ini berawal. Gue harap kalian menyimaknya baik-baik, bayangkan kalau perlu bagaimana pejantan memperlakukan sebuah cinta dan bagaimana kami kaum lelaki akhirnya terlampau semangat menggapai cinta itu meski kadang kami letih dan enggan untuk move on.

"Kalau Indonesia merdeka boleh ditebus dengan jiwa seorang anak Indonesia, saya telah memajukan diri sebagai kandidat yang pertama untuk pengorbanan ini"
                                                                                Harian  Tjahaja, 29 April 1945 -Oto Iskandar di Nata-

Menurut gue kalimat diatas menggugah banget sampe ke dasar hati gue yang paling dalem, yang dalemnya lebih dari lautan *oke fokus*.

Pasti menurut kalian pahlawan itu sekarang ini bukan cuman yang ngacung-ngacungin tombak yang ujungnya ada mata piso, pasti bukan itu karena itu udah jadul dan gak hits banget buat jaman berteknologi mbah google ini.

Tapi meski pahlawan bukan orang yang teriak teriak “MERDEKA ATAU MATI” sekarang ini, pahlawan tetap dianggep sebagai sesuatu yang suci dan jauh dari kebanyakan orang. Kenapa? salah apakah si pahlawan ini sampai tidak ada lagi yang mau memasang badan untuk menjadi pahlawan?
Semua masih memilih sebagai si jahat daripada si pahlawan, karena pekerjaan si jahat lebih mudah dan ringan daripada si pahlawan *poor for hero*.
Siang itu panasnya Depok macem matematika yang solusinya gak nemu, bikin ujung kaki sampe ubun-ubun berasep.
Gue yang nongkrong di mantan kampus, jadi ngerasa aneh ngeliat mahasiswa-mahasiswi bersileweran dengan tas di pundak dan segerombolan anak yang mengelilingi mereka. Kalau dulu waktu masih ngampus gue gak pernah berfikiran bahwa hal ini bakal gue rinduin, betapa banyaknya tugas atau apapun itulah namanya. Awalnya ngerasa belum siap padahal waktu kuliah pikiran udah pengen cabut aja karena puyeng, well ketika menginjak arti lulus gue pun sadar bahwa sekarang gue udah menjadi bagian dari masyrakat seutuhnya.

Mungkin dilema yang gue rasain ini bukan cuman gue doang yang punya, tapi hampir semua temen seangkatan dan diatas angkatan membicarakan bahwa menjadi mahasiswa adalah sesuatu yang sakral dimana loe bisa bermain sambil berfikir, dimana loe bisa mengerahkan kekuatan loe bukan hanya untuk belajar tapi juga untuk menyalurkan apa yang loe sebut passion ataupun hobi, loe bisa eksplore segalanya diwaktu senggang loe kuliah, bahkan nyicip bagaimana rasanya kerja kantoran dengan magang, dimana untuk manusia malas, menjadi mahasiswa berarti masih berlindung dibalik ketiak orang tua dan selamanya dianggap belum cukup untuk menjadi bagian dari masyrakat.