Jadi beberapa waktu lalu gue punya kesempatan bertemu dengan seseorang yang emang inspiratif banget, gadis talented yang emang udah membuktikan dirinya.Gue gak berani sebut nama karena gak dibayar haha.. #canda

Namanya Maria Harfanti, gak tau?
Tadinya gue juga gak tau siapa dia,tapi ternyata dia Miss Indonesia tahun 2015.

Sumber

Hallo, namaku Surya, umur 8 tahun, aku memiliki orang tua paling hebat yang pernah aku miliki. Ibu dan Ayah yang tidak pernah lelah membanting tulang hanya untuk menyekolahkanku. Saking kerasnya mereka berusaha, ayah sampai jatuh sakit dan ibu yang mencari nafkah sendiri.
Aku pun seringnya membantu Ibu, entah mengumpulkan kardus bekas atau gelas bekas untuk dibersihkan lalu dijual, membersihkan makam pada hari-hari besar ataupun pergi berjualan koran. Semua kulakukan agar Ibuku tidak terlalu bersusah payah.

Aku menganggap keluargaku tidak pernah kekurangan, senyum apalagi. Ayah selalu bercanda pada kami meskipun itu tentang penyakitnya. Ibu selalu membawakan cerita-cerita menarik. Ibu bilang hidup kami sudah terlalu berat untuk dipusingkan, ada baiknya pada hari ini kita menertawakan kehidupan yang sudah sangat murah hati memberikan surya pada keluarga. Ya, Ayah dan Ibu berharap bahwa aku bisa seutuhnya menjadi mentari bagi keluarga, yang menghangatkan dan tidak pernah pudar termakan jaman.

"Aku bisa sekolah di sekolah yang bagus bu?" Tanyaku kala mentari menorehkan keindahannya,

Saluton Lebaiers!
Disuatu hari yang cerah merona, gue seperti biasa terlena oleh kasur dan kipas angin, namun karena mata gak kunjung tenggelam saking silaunya sinar mentari akhirnya gue putuskan untuk menambahkan televisi dalam daftar kasur dan kipas angin.

Lama nonton, gak kunjung ngerti juga gue sama apa yang gue tonton. Namun ada yang menggelitik gue sesaat, ketika tokoh lelakinya dengan lantang menyebut kalau dia Panseksual. Apa.. Apa.. Panseksual?
Macem mana lagi itu artinya, pikir gue.
Tanpa melihat kelanjutan filmnya, gue langsung buka browser dan cari arti panseksual yang agak ganjil buat gue.

Selalu ada cerita setiap harinya.
Begitu pun dengan hari ini (02/09/2017). Lewat bukan berarti tak perduli, hanya menyiapkan hati sejenak menyambut hal-hal lainnya.

Tulisan kali ini agak mellow, karena memang didesain demikian, agar hidup gak cuman tertawa saja. Tidak seperti orang bodoh mungkin, hanya menyikapi lebih baik.

Jadi, begini.

Ditahun yang indah ini, seperti pada tahun-tahun sebelumnya gue hadir kembali ditempat dimana gue selalu mengasingkan diri. Satu dua tiga jam memejamkan mata, menanti Tuhan memanggil atau setidak-tidaknya memanggil Tuhan dengan mesra.
Gua Maria Kanada - Rangkas Bitung.
Semua orang butuh berlari, bedanya gue gak lari dengan kaki tapi dengan pikiran dan kenyataan.
Iya, biar kekinian gue lari dari kenyataan. Sejenak, menikmati riuh redam gesekan dedaunan yang membuat hati sejuk.

Hari ini ada acara imunisasi disekolah tempat gue menggali butir-butir berlian. Kebetulan gue yang saat itu tugas berjaga ngawasin mbak mbak perawat ataupun dokter mengganti setiap jarum suntik yang dipakai.

Mulai dari dipeluk erat, digenggam dengan kekuatan dahsyat, baju basah dengan tangisan, sampai akhirnya pada satu titik dimana salah satu murid bersikeras dan sangat keras tidak mau disuntik.

Sebelumnya ada dua murid yang memang tidak berkenan disuntik, menangis sejadinya dan ditenangkan dengan sangat sabar oleh kepala sekolah. Apa mau dikata, ijin dari orang tua agar anaknya disuntik telah dikantongi terlebih ini adalah untuk kesehatan. Maka memang tidak ada salahnya untuk terus berusaha membujuk, dua murid itu meski berteriak akhirnya berhasil disuntik.

"Apa kamu tahu bagaimana rasanya pacaran dengan seorang homo?"

"Bagaimana rasanya?"

"Rasanya ketika langit menjadi milikmu, bahagia didepan mata. Begitu dalam rasa cintamu. Begitu bangga kamu bisa memilikinya, hingga ada benang kuat yang terjalin dan kamu tidak akan melepaskannya. Kamu sangat yakin itu tidak lepas sampai kamu melihat lelaki yang kamu kagumi memutus jalinan benang itu"

"Apakah sesakit itu?"
Dalam kehidupan ini kadang dikejutkan oleh hal-hal yang kita sendiri gak ngerti kenapa bisa kita terkejut.
Bahkan kita seringkali bertanya mengapa itu terjadi.
Hal baik seringkali membuat kita kaget apalagi hal buruk.

Sama seperti begini, gue dan kesukaan gue mencoba makan di pinggir jalan.
Pertimbangan gue memilih makan di pinggir jalan adalah apakah tempat itu cukup bersih, apakah sanitasinya cukup terjaga. Apakah akan baik-baik saja, biasanya kalau sudah memastikan hal itu dengan melihat sekilas gue akan langsung memutuskan untuk makan ditempat itu.

“Tumben baju lu bagus”
“Muka lecek banget, pengen gue setrika rasanya”
“Itu badan apa penggilesan, rata amat”

Rasa-rasanya kalau ada orang yang udah biasa gaul sama gue, ngedenger hal-hal macem itu udah biasa paling gue di “Kampret lu” atau dikatain “Sial”.

Ngomong jujur (baca:songong) menjurus ke frontal buat gue emang kadang gak bisa di rem, makanya seringkali orang yang gak kenal pun bakalan bilang, ‘gila mulut udah kayak pompa kering, bikin semua orang menderita’
Oh my..
Pernah suatu kali,
Aku menatap langit,
Bertanya pada Bintang,
Kapan jodohku muncul?

Pernah suatu hari,
Aku menatap ikan disungai,
Bertanya pada ikan,
Kapan jodohku datang?

Pernah siang itu,
Aku menatap langit,
Bertanya pada mentari,
Kapan jodohku melamar?

Kuulang setiap hari,
Agar aku tidak lupa,
Bahwa jodohku berlum terlihat.