Menjadi Sendiri


Sumber
Dan bulan Desember telah datang, siap berganti tahun kawan?
Siap tidak siap kita memang harus melaluinya bukan begitu?

Seperti tahun-tahun sebelumnya dimana gue berefleksi sebagai jomblo sejati, ditahun ini pun gue memilih opsi itu untuk menghabiskan hari. Atau mungkin diakhir-akhir ini terasa sedikit berbeda karena ada hati yang sedang belajar menyukai.

Tolong ucapkan selamat dulu sama gue yang setelah gue hitung dan takar ternyata tahun ini gue 6 tahun jalan  dengan kehidupan tanpa status kepemilikan #asikasikjoss. Gue rasa untuk ukuran cewek yang telah mengecap begitu banyak rangkaian kisah dan daftar panjang gonta ganti pasangan gue merasa bangga sudah bisa mencapai angka itu, haha (ketawa miris).

Dan tepat beriringan dengan tulisan ini gue menonton satu hal yang bikin gue senyum senyum sendiri, “How To Be Single” yang diperanin epik banget sama neng Dakota.
Bisa dikatakan jomblo itu adalah sebuah pilihan, dimana ketika anak SD udah pada manggil mesra ayah bunda, atau ketika si cewek ngingetin cowoknya biar gak maen kelereng sampe beduk maghrib, gue cuman bisa nyiumin aroma buku Sherlock Holmes setebel buku KUHP.
Selalu ada yang mendasari kenapa akhirnya memilih sendiri dahulu sementara diluar sana (mungkin) seseorang mencoba mengetuk dan mengatakan, “apakah hati yang ini kosong?” dan kita mengatakan tidak. Bahkan sampai hatinya disarangi laba-laba kita tetap mengatakan tidak.

Selalu ada hal yang mendasari kenapa kita ingin sendiri dulu, bisa karena luka lama, bisa jadi karena cinta tidak tersampaikan misalkan kalian suka Beneditch Chumberbatch atau Andrew Garfield yang punya badan oke, ini namanya gak realis pokoknya (makanya pantes kalo kalian sendiri). Alasan-alasan yang mendasari itulah akhirnya memutuskan dan menjadi tekad untuk sendiri terus atau memang gagal pendekatan macem gue.
Who know?
Beberapa sahabat gue memutuskan untuk hidup sendiri dan melihat gue, mereka mengatakan kemungkinan untuk asik sendiri melekat dalam hidup gue.
Apa reaksi gue?
Gue cuman memalingkan muka, reaksi yang selalu gue berikan kalau gue gak suka.

Menikah adalah tuntutan dari lingkungan, hidup bersama adalah apa yang Tuhan pinta dan menemukan orang yang “klik” (ini ucapan seseorang yang sedang belajar gue sukai) adalah sesuatu yang sungguh sulit.
Gue rasa orang yang memilih sendiri pada akhirnya berpijak pada keyakinan bahwa tidak ada yang bisa mengerti diri mereka, bahwa tidak ada satu pun dari semua orang didunia ini yang bisa mengisi kekosongan yang mereka miliki.

Tidak ada yang salah, sendiri atau berdua tidak ada yang salah.

Sepanjang perjalanan gue, kita memang membutuhkan waktu sendiri, kita benar-benar berjalan sendiri tanpa siapapun yang menjadi sandaran.
Ketika kita mengeluh dan tidak ada seorang pun yang mendengarkan,
ketika kita menangis dan kita tidak bisa bersandar dalam pundak seseorang,
ketika kita merasa sakit dan tidak ada yang memperhatikan kita,
Lalu kita akan belajar berdiri dengan kedua kaki kita, tegap dan tegak.
Menghalangi rintangan sendiri, menjadikan seorang yang lain tertawa bersama.

Nikmati waktu sendiri itu, dengan pergi kemanapun kita suka, dengan menyukai apa yang benar-benar menggembirakan kita, mencurahkan segalanya pada satu hal hingga kadang kita tersadar bahwa kita telah sampai ke satu tempat dimana kita tersenyum memandang kesendirian kita.

Benar-benar menyukai momen-momen yang telah terangkai dan tidak menyesali sama sekali.
Waktu akan sangat berharga ketika akhirnya kita mulai belajar menyukai diri kita sendiri, tanpa memperdulikan kekurangan kita, hanya tertawa ketika banyak teman mengatakan bahwa kita lesbian, apatis, skeptis dan lain-lainnya.
Kita hanya tertawa, menangis dan merundung dalam lingkup kesendirian.
Hingga momen itu akhirnya berhasil kita lewati,
Kita merasa puas,
Tuhan telah merasa cukup untuk kita sendiri.
Dia mulai mengirimkan seseorang untuk kita,
Disaat kita menghargai kesendirian itu, disaat kita mulai menyukai diri kita sendiri, disaat langkah kaki telah mantap berdiri, Tuhan mengirimkan seseorang.
Dan momen kesendirian itu pun menghilang.

Sendiri itu baik, diiringi doa kepada Tuhan pun lebih baik.
Ketika kita mulai menghargai hal-hal kecil, ketika kita mulai menghargai keberadaan orang-orang, ketika kita mulai menghargai setiap apresiasi dari orang-orang bahkan Tuhan pun akan menghargai kita dengan hal yang besar.

Walah, setahun berlalu dan tulisan gue makin bijak, gue harus dikasih hadiah nih, haha..
So, gaes buat yang masih sendiri (eh, gue juga nih) mari kita toss bahwa sejatinya sendiri menjadi jalan untuk berdua (lah, iyalah).
Haha..
See you next time!
Kita lihat apakah tahun besok gue masih nulis refleksi jomblo atau udah siap dengan tulisan menjalin hubungan..

Dan kunjungi juga refleksi gue tahun kemarin yang penuh dengan pertanyaan selayak apa gue disukai
( http://lebailabiel.blogspot.co.id/2016/04/hiatus-berpacaran.html )

No comments:

Post a Comment