Penghuni Hujan

Sumber

Apakah kalian selalu memaki hujan?
Apakah kalian selalu menyesal melihat hujan?
Apakah kalian merasa terbebani dengan hujan?
Kalau kalian tanyakan ini kepadaku, maka biarkan aku menari tak tentu arah dibawah guyuran hujan. Merasakan tiap tetesnya menyentuh kulitku dan menjadikan bagiku sebuah kebanggaan dapat bebas layaknya burung tak bertuan, bebas dan tanpa beban. Bebas lalu merasakan sedih. 

Ya, bukankah hujan selalu merasakan kesedihan? 
Manakala dia kembali ke bumi ketika sebentar saja dia merasakan kebersamaannya bersama awan?
Awan telah membawanya naik dari dunia, membawanya mengelilingi tempat-tempat yang indah dan menakjubkan, awan membawanya kepada sebuah dunia baru yang terlihat dari atas sana, awan membawanya kepada sebuah kesenangan yang tak akan pernah dirasakannya diatas dunia. 
Namun, kebersamaan itu hanyalah sebentar ketika awan dan air tidak dapat ditakdirkan bersama. Mereka harus berpisah dan menunggu waktu untuk menghantarkan kembali apa yang seharusnya bersatu.
--0--


Aku menemukannya ketika hujan turun dialun-alun kota Bekasi, Lelaki itu seperti mahkluk luar planet bagiku yang selalu duduk sendiri menyaksikan keramaian ditempat ini. Lelaki itu seperti mahkluk asing yang salah mendarat, wajahnya kusut tak tentu arah, pakaiannya basah membuat tubuh kurusnya terlihat lebih kurus. Aku memandangnya sampai dia tersadar aku memandangnya lalu membalas pandanganku dengan senyum. Senyumnya manis seperti gulali yang baru saja kumakan dan tak kuhabiskan, lalu terbuang begitu saja kelantai, hilang tak bersisa disapu air hujan yang kian deras.

Hujan kian deras dan kulihat dia menggigil, aku masih memandangnya dari atas sampai bawah, dia pun kembali memandangku tersenyum lalu berlari menembus hujan.
Lelaki aneh yang tidak sabaran, kenapa waktu mengejarnya begitu agresif?

Hari berikutnya aku masih duduk dan hujan sudah kembali menghadang hari, keramaian masih sama ditempat ini membuatku mengharapkan Lelaki itu muncul kembali. Ya, lelaki itu muncul kali ini dengan wajah yang lebih terang dan tengah memakai payung. Dia menutup payungnya dan duduk disebelahku, mengelus kepalaku lalu menengadah ke langit, memastikan bahwa Tuhan memang membuatku nyata.
    “Aku tak pernah berfikir bahwa awan akan menemukan airnya disini. Bukankah ini bagus?”
Aku tidak mengerti apapun dengan pertanyaannya, jadi aku hanya memandangnya. Wajahnya semakin sedap setiap kali aku memandangnya.
    “Ah maaf, bukan maksudku membuatmu bingung. Aku Alvin”
Dan aku mengangguk tanpa menyertakan namaku, apalah aku hingga dia harus tahu namaku, dia menghormati keinginanku untuk tidak berbicara dengannya.

Beginilah kala hujan turun, dia datang dan datang terus.
Tidak membawa apa, tidak menuntut apa.
Dia hanya datang, duduk disebelahku, menyaksikan keramaian bersamaku, menatap orang-orang yang acuh terhadap keberadaan kita berdua.
Hanya saat hujan turun dia datang dan menemaniku duduk, memintaku untuk tidak selalu sendiri, membuatku justru mengharapkannya selalu datang dan memperdengarkan suaranya yang begitu indah.
“Apakah kamu tahu? bahwa dunia ini begitu indah? bahwa dunia ini tidak melulu soal kesepian? Apakah kamu tahu kalau cintalah yang akhirnya menjadikan keindahan dunia mencapai titik teratas?”
Aku hanya terpaku mendengarnya, ya cinta memang membuat segala kesuraman menjadi cinta, tapi kurasakan Tuhan tidak mengijinkan aku memiliki cinta itu hingga dia membawaku kepada titik terendah.
“Dirimu yang kesepian bukanlah salah Tuhan, bukanlah salah orang lain, bukan juga salah dirimu, tapi bukalah dirimu pada dunia, biarkan dunia tahu siapa dirimu. Jangan hanya berdiam diri di pojokan kamar sampai seseorang mengetuk dan akhirnya mendobraknya”
Aku berpaling padanya, mulai meresapi kata per kata yang keluar dari mulutnya.
Ingin menangis namun tak sanggup, ingin bersedih hati namun tak kuasa.
Aku hanyalah orang kecil yang berada ditengah keramaian.
Siapakah aku hingga menuntut dunia untuk memandangku?
   
Kedatangan Lelaki ini bukan hanya menjadi sebuah aura positif untukku, bukan hanya menjadi tenaga tambahan bagiku, bukan hanya sebuah pendobrak bagi pintu yang sulit terbuka, dia bagaikan petromak yang menerangi ditengah kegelapan yang gulita, sinarnya tidak berlebihan namun cukup bagiku memandang dunia dari sudut yang lain.

Ia terus datang manakala hujan turun, membuatku begitu merindukan hujan yang turun, dia menjadikan getaran dalam hatiku kian menjadi. Maka, ketika hujan turun aku selalu menantinya dengan degupan yang tak kuasa aku hentikan, aku menantinya dengan debar jantung seorang kekasih yang menunggu belahan hatinya.
Hingga hari ini datang, hari tanpa hujan. Awan hitam tak lagi menggantung di atas langit, tak lagi bersama air yang digandeng bersama. Tenggelam harapku, kalah oleh sinar mentari yang benderang menerangi tanah.
Aku terus menantinya, seperti orang bodoh, melihat kerumunan berharap dia muncul darinya. Menantinya menjadi rutinitasku hingga lelah menghadang, letih menemani dan aku sudah tak kuasa berada di dunia.

Lelah akhirnya menutup mataku. Menjadikan duniaku gelap dan tak berapa lama terang.
Hujan kembali turun, aku tersenyum.
“Dan kebodohanmu membawamu kesini”, ucap lelaki yang lama kunanti.
Aku tersenyum berlinang air mata.
“Tugasku telah usai, tugasmu kini menjadi penghuni hujan”, kembali dia berucap semakin aku terisak.
Entah menangisi kebodohanku akan cinta,
Entah menangisi kebodohanku mengenai imajinasiku untuk menentang dunia,
Entah menangisi segala hal yang bisa kutangisi.
Kemarin aku hanya ingin meninggalkan dunia fana untuk bertemu dengannya, Penghuni Hujan.
Ternyata setelah bertemu dengannya, sekali bagiku tak cukup.
Ini lebih dari penderitaan dan aku terjebak dalam egoku.
Berubah dari pengagum hujan menjadi penghuni hujan.

No comments:

Post a Comment