Sumber


Hujan selalu membawa kenangan tanpa batas,
bukan begitu?
Hujan datang bersama awan gelap terlebih dahulu,
Mendung kita menyebutnya,
Awan itu menghantarkan kita kepada hal-hal yang tidak menyenangkan,
Membuat rasa menjadi redup, gelap lalu hilang.

Sumber

“Andaikan punya fortuner..”
“Andaikan pacar saya Bradd Pitt”
“Andaikan sekaya Bob Sadino”
“Andaikan punya papa seganteng Dedy Cobuzier”
Bla.. bla.. bla.. dan bla..

Siang serasa makin terik kalau ada orang yang mengeluh, apalagi kalau keluhannya macem itu. Rasanya jadi pengen naik fortuner punya Om Bob Sadino digandeng Brad Pitt di supirin Dedy Cobuzier.
Tapi sekali lagi itu tidaklah mungkin, karena :
1. Kenal Bob Sadino cuman dari tipi, apalagi sekarang udah Alm.
2. Brad Pitt udah berbahagia sama istrinya disana,
3. Dedy Cobuzier udah punya ttm-an
4. dan aku cuman bisa gali tanah di ujung gang.
Sumber


Menurut gue ini adalah salah satu film lama dari berderet-deret film bagus yang gue tahu.
Ratingnya emang gak lewat 7 di IMDB tapi layak ditonton (menurut gue).

Ceritanya diawali oleh seorang gadis belia yang udah nginjek angka 26, dimana teman-temannya sudah memiliki pasangan atau bahkan menikah. Gak jauh kayak di Indonesia lah, dimana ketika lu nginjek umur 25 aja kayaknya beneran mau nginjek-nginjek itu umur karena undangan berderet tiap minggu sedangkan pasangan aja gak punya.

Nah si Alice ini, pindah ke New York untuk bekerja dan ketemu Robin (Rebel Wilson, gue seneng banget sama orang satu ini, gendut tapi percaya diri, dia membuat gue yakin bahwa gak ada siapapun yang bisa ngejudge orang lain kalau memang kita tidak mengijinkannya) di firma hukum yang memperkerjakan Alice.
Ketika kerja disini, ini adalah saat Alice dan pacarnya memilih break dulu (istirahat dalam pacaran, artinya tidak saling menghubungi dan memilih sendiri dulu).

Disinilah Robin yang melajang dan Alice yang sedang break merajut pertemanan tidak biasa. Melakukan hal-hal gila yang memang tidak bisa dinalar Alice awalnya. Ini juga yang menjadi titik awal bertemunya Alice dengan Tom pemilik kafe, lelaki yang tidak mempercayai hubungan dan lebih senang menjalani hubungan tanpa terikat.

Sumber
Dan bulan Desember telah datang, siap berganti tahun kawan?
Siap tidak siap kita memang harus melaluinya bukan begitu?

Seperti tahun-tahun sebelumnya dimana gue berefleksi sebagai jomblo sejati, ditahun ini pun gue memilih opsi itu untuk menghabiskan hari. Atau mungkin diakhir-akhir ini terasa sedikit berbeda karena ada hati yang sedang belajar menyukai.

Tolong ucapkan selamat dulu sama gue yang setelah gue hitung dan takar ternyata tahun ini gue 6 tahun jalan  dengan kehidupan tanpa status kepemilikan #asikasikjoss. Gue rasa untuk ukuran cewek yang telah mengecap begitu banyak rangkaian kisah dan daftar panjang gonta ganti pasangan gue merasa bangga sudah bisa mencapai angka itu, haha (ketawa miris).

Dan tepat beriringan dengan tulisan ini gue menonton satu hal yang bikin gue senyum senyum sendiri, “How To Be Single” yang diperanin epik banget sama neng Dakota.


Apa yang kalian lakukan di long weekend awal bulan desember ini?
Apakah tiduran dirumah, menerjang kemacetan tiada ujung atau lebih memilih mantau akun @lambet*rah biar jadi kidz zaman now kekinian yang update gak berenti?

Kebetulan gue sendiri memilih untuk keluar dan memilih melawan arus dengan menjadi GPS hidup kakak gue. Iyak gue nemenin dia temu kangen sama hobi yang sampe sekarang gak bisa gue ngertiin.
Gue ceritain sekilas mengenai hobi dia ini. Hobinya adalah melihara ikan, gak berenti disitu dia juga sempat mendalami Aquascape (ini adalah seni dimana kalian menyusun tanaman, coral dan segala kroni-kroninya membentuk keindahan luar biasa), cuman terbentur modal dia berhenti dan mulai membangun kolam ikan yang lumayan. Ikannya pun bukan main, mulai dari nyoba melihara predator, arwana sampe louhan.

Gue menyebutnya hobi lelaki.
Karena ketika semua orang meragukan hubunganku dengannya, malah semakin besar rasaku untuk terus bersamanya.

Entah apa yang menguatkanku untuk bertahan dengannya, apakah rasa yang kupunya semakin besar atau memang hati yang semakin sulit untuk melepasnya.

Aku memanggilnya Pelangi,
Dia memanggilku Bintang.

Bagai Pelangi, selalu bersinar sehabis hujan dengan warna indahnya. Dia menyejukkan dan membuat hariku gembira ria.

Katanya aku seperti Bintang, membuat malamnya yang sepi selalu bersinar.
Sumber


Pernah ngobrol bareng Tuhan?
duduk bareng sama Dia sambil nyeruput teh melati dan memandang hamparan hijau membentang luas didepan mata?

Pernah ngobrol seharian bareng Tuhan, saking asiknya ngobrol lupa kalau udah larut dan akhirnya ketiduran.

Persis kayak orang pacaran, selalu inget Dia, mau makan inget Dia, mau mandi inget Dia, mau ngapa-ngapain inget Dia, duh jadi inget Duo Maya juga.

Tapi sayangnya kita gak begitu. Kita jarang inget Dia, boro bahagia, sedih doang inget Dia.
"Karena gak semua orang bisa kita senengin dan gak semua orang seneng sama kita"
Kayaknya ini kata-kata pakem banget buat orang-orang yang udah ngerti alur kehidupan, ngerti banget kalau hak orang lain untuk saling membenci atau menyukai tanpa alasan.

Tapi kan gak semua orang bisa menerima kata-kata itu, yekaann.. macem jomblo yang ngerasa ngenes ngeliat kelakuan pacaran kids zaman now yang bikin baper tujuh tingkatan karena mereka ngerayain pacaran satu bulan sekali (yaelah betapa boros cintamu nak).
Banyak orang yang bisa saja membenci kita tanpa alasan, contohnya dari salah seorang temen gue yang baru aja kerja di satu perusahaan.
Dia kerjaannya diomelin mulu sama bosnya, dibilanglah kerjanya gak bener, dibilanglah kurang ini kurang itu kurang tinggi kurang cantik oke gue kurang fokus.
Sebulan dua bulan tiga bulan seiring detik waktu berlalu omelannya sama tapi tingkatannya beda. Temen gue udah diangkat karyawan tetap dan tetap aja bosnya ngomel.
Ini salah dimana?
Ini siapa yang salah?
Kalau menurut gue sih yang salah jelas cowok, kan cewek selalu benar (haha sorry kam to vret).

Tadinya kamu bukan siapa-siapa bagiku,
hanya adik kelas.
hanya sebatas mengenalmu saja.
hanya oh kamu jurusan ini.
hanya itu saja.

Kupikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi,
Kupikir hanya sebatas mengenalmu seperti teman yang lain,
Tidak ada rasa spesial bagiku,
Tidak ada rasa lebih untukmu.

Sampai saat kita kembali dipertemukan dalam keadaan yang membuatku melihatmu, menyadari keberadaanmu.
Ditempat kerja kita lebih mengenal, dari obrolan ringan mengenai jurusan masing-masing dan kebetulan dosen yang sama.
Obrolan ringan yang kita bawa dari satu menu ke menu makanan lain, dari satu tempat duduk ke tempat duduk lain, dari candaan sampai curhatan.
dari rasa nyaman luar biasa bersamamu.
Semua orang memiliki hidupnya, dari yang biasa saja atau merasa dirinya tidak biasa.
Dari yang selalu mengantarkan kebahagiaan bagi orang lain atau kemuraman.
Dari yang berkata segalanya tidak baik-baik sampai pada orang dengan dunia positif.

Ada yang depresi,
Ada yang tidak menyukai kehidupan ini,
Ada yang membencinya,
Ada yang kesepian,
Ada yang merasa selalu sendiri,
Ada yang pura-pura bahagia.

Kamu bagian yang mana?
Aku bagian yang mana?