“Kamu tahu, kalau memiliki berarti siap kehilangan?” ucap Dia, duduk menyerong tidak juga menghadap lawan bicaranya.
Kamu memiringkan kepalamu, melihat dengan jelas wajah Dia.
“Kenapa harus kehilangan jika yakin saling memiliki?” balas Kamu dengan sengit,
“Kamu tahu istilah ini, dalamnya lautan kita tahu, dalamnya hati orang kita tidak pernah tahu.”
“Kamu tahu, bahwa ketika kamu pergi kamu bisa saja pamit,” Kamu membalas lagi, kemudian Kamu membetulkan posisi duduk. Posisi duduk kini sama sulitnya dengan posisi hatimu.
Meronta tak tentu arah, menuntut penjelasan yang tak kunjung diberikan.







