Hari itu seperti biasanya gue ngapelin komuter, gue sama komuter itu udah kayak belahan siku, meski lepas harus balik nempel lagi dan kayak biasanya juga, komuter hari ini terlambat. Kereta kedua yang punya jadwal berangkat 05.29 dari Bekasi geser gara-gara kereta langsung lewat jadi 05.40, alhasil kereta dengan jadwal 05.44 pun harus geser lagi. Untungnya sih gue dan kecekatan kaki gue yang segede tales bogor bisa naik kereta kedua (yang terlambat).

Selama gue naik kereta dari jaman kereta odong-odong seharga Rp. 1.500,- sampe sekarang harganya akumulatif jarak, baru sekali ini ada orang yang teriak gak sabar, sebelumnya mah paling gue cuman denger gerutuan pelan karena semuanya sadar bahwa yang kejebak disitu gak cuman dia.
Jadi begini nih kronologisnya,
Pas komuter berhenti dua stasiun setelah stasiun Bekasi, dimana ini adalah penumpang kereta terbanyak setelah stasiun Klender Baru, ada cewek yang bawa helm (kebetulan gue demennya naik di gerbong khusus cewek). Nah berhubung penduduk kereta khusus gerbong cewek itu beringas banget, doyannya madet-madetin tanpa ampun akhirnya cewek itu teriak..
"Eh jangan dorong-dorong dong, Anj*ing nih emang..."
Blaaammm, kau mendapatkan kesalahan nona. Semua senyap langsung menoleh pada perempuan yang bawa helm dan tanpa komando langsung bilang

Kita tahu bahwa setiap langkah yang kita ambil, hari yang kita lalui, kejadian dalam kehidupan ini memiliki makna, memiliki arti, menjadi pelajaran yang sangat berarti.

Siang ini kebetulan gue gak ada jadwal di depan komputer, tapi keliling Jakarta karena ada beberapa peralatan eskul yang kudu dibeli.
Mobil sekolah yang biasa dipake pun lagi berhalangan dipake sama unit lain, alhasil gue, kepala sekolah dan salah satu murid yang didaulat kepsek buat nemenin naik taksi ke daerah Jakarta Selatan.

Bukan sesuatu yang diduga juga, sampe bingung jelasinnya gimana dari awalnya gue cuman nanya ini itu sampe akhirnya tau dia punya anak berapa, rumahnya dimana dan pool-nya dimana.

"masa sih ada perpustakaan berisik?"
"perpustakaan itu kan identik sama hening senyap dan baunya kutu buku"
"perpustakaan itu kan enaknya buat tidur" 

Mungkin itu adalah pemikiran yang timbul ketika membaca judulnya. Mau tau segera apa itu perpustakaan berisik, ya gaak.. mau tau kann.. mau tauu.. udah ngaku aja.. mau tau kan *kemudian gue dilempar gerbong kereta*.
Santailah kawan kayak rintik hujan yang buat galau, tadi itu sedikit intro biar basah. 

Dear Tuhan,

Pertama-tama ijinkan aku menyapa diriMu yang agung dan ciptamu yang mengagungkan hati.
Kedua ijinkan aku menanyakan kabarMu disana.
Ketiga ijinkan aku dengan ketidaksopanan dan kekhilafanku sebagai manusia menitipkan pesan untuk seseorang ditempatMu berada.
Pesan yang sederhana dan sangat mudah diingat, aku tidak memperpanjangnya karena aku ingin Tuhan tidak lupa dan ketika berpapasan dengan seseorang itu bisa langsung teringat padaku dan pesanku.

Kebanyakan orang yang bertitel blogger biasanya akan terusik bila mendengar hal-hal seperti ini :

"Pedekate aja gencar, kapan gencar nulisnya?"

"Blog apa rumah berhantu, yang gentayangan banyak, kontennya gak nambah"

"Blog atau rumah spiderman, sarangnya banyak bener"


Ini bagaimana gue melihat status seorang kawan
"Hanya ada dua kemungkinan dalam hidup ini. Berdiri dengan kaki yang hilang namun tetap menjunjung langit atau kaki yang nampak namun telah terbantai. Kenyataannya hidup adalah kehidupan yang dikebiri"
Kawan gue sedang menulis status bagaimana pergumulan dalam hidup akan menentukan siapa yang berjaya dan siapa yang takluk oleh pergumulan.


dok. pribadi (itu muka gue men)
Demi Aditya Regas dan buku “DAM (Diary Anak Magang)”-nya yang sangat laku dipasaran, gue dan sejumput keberanian nekad membeberkan simfoni masa lalu yang selalu membuat gue baper, yakni tantangan menceritakan mengenai One memorable song atau kalau gue terjemahin secara EYD adalah Satu Lagu Kenangan.
Nah indahnya hidup karena lagu ini secara langsung membentuk kepribadian gue menjadi welas asih meski masih kalah sama asih welas, oh maaf itu asri welas tapi tak mengapa maklumkan saja.

Ini adalah lagu pertama yang gue apal dan gue persembahkan khusus untuk si mantan. Haruskah gue tegaskan lagi kayak si Regas biar greget. Oke! ini lagu khusus untuk si MANTAN, sekali lagi deh biar nampol MANTAN.
Hal yang gue pahami sekarang-sekarang ini adalah begini :

Ketika kita kecil, anggaplah sekolah dasar, kita akan merasa malu bila nilai kita jelek, bila nilai kita lebih rendah daripada orang lain dan terpaksa masuk ke dalam jajaran mahkluk-mahkluk mistis yang akrab dengan remedial.

Penanaman akan nilai bagus pertanda pintar (tapi belum paham) sudah menjadi bakat alami gue. Jadi tolak ukurnya adalah kita apal dan kita bisa dapet nilai bagus, lain halnya dengan prinsip jika kita mengerti bagaimana cara kerjanya maka akan dengan mudah kita meramu hasilnya.
Macem matematika, dimana bila kita ngerti cara itungan yang bener dikasih soal yang ada gambar Aderai aja kita masih sanggup mengerjakan,
Macem sejarah yang ekstrim, dimana bila kita ngerti bahwa kita adalah bagian dari sejarah itu dikasih soal yang ada gambar nenek moyang aja kita masih sanggup buat mengerjakan.
Tapi gak gitu, semuanya gak gitu karena kita udah merasa ada kesalahpahaman dalam menilai bagaimana sekolah diciptakan.
Helow Lebaiers,

Tau Jakarta Comic Con?
Itu loh yang diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, yang gedungnya mepet sama acara AFAID. Yang parkirannya ngebuat puyeng. Masih gak tau juga?
Itu loh yang acaranya perdana di Jakarta. Tau? Pengen kesana tapi gak kesana? kasihan *tertawa setan*

Nah berhubung gue kesana dan gue anak yang baik hati maka gue beri tahu kalian bagaimana kehidupan gue setelah tiba di planet lain bernama Comic Con sehingga kalian mengerti apakah harus menyesal atau justru berbahagia karena tidak kesana.

Rasanya gak munafik kalo kita sebagai manusia menginginkan sesuatu dibalik yang kita perbuat.
Ya gak sih? 
atau enggak?

Hari ini gue terhenyak oleh perkataan seseorang. Dia mengatakan gue sok manis, jujur semua cewek seneng disanjung. Gue juga seneng disanjung, itu sebagai apresiasi mereka terhadap jerih payah gue untuk memantaskan diri dihadapan mereka, yang sangat cuek dengan penampilan dan berusaha mati-matian untuk tampil layak.

Kenapa gue sok kalau gue emang manis? #abaikan