Trip Sukabumi Membumi 2D2N




Sore Kawan!
Petualangan tahun 2019 yang baru sempat ditulis tahun 2020 ini berasal dari Sukabumi.
Setelah beberapa tahun silam sempat mampir ke sini akhirnya kembali lagi kemari.
Bersama dengan janji jalan bareng @atpurnomo kali ini crew yang terlibat berjumlah 6 orang.
Adi, Elvan, Siti, Indah, Gue dan satu lagi sumpah loh gue lupa namanya (jika baca maafkan hamba ya)

Mengenyangkan perut dan menyegarkan diri, jam 22.00 kita pun jalan menuju tujuan Sukabumi.
Go go go..
Perjalanannya sangat menyenangkan manakala mereka semua bocor banget! haha..

Day 1; Puncak Habibie - Pantai Karang Hawu - Geopark

Karena ternyata jalanan lepas Jakarta lancar kita pun sampai di Sukabumi pukul 03.00 wib dan memutuskan untuk bersender pada kenyamanan di Bukit Kembang yang pada tahun 1990 berubah nama menjadi Puncak Habibie.


Apakah ada patung bapak Habibie disana?
Engga ada dong, tapi nama ini adalah sebagai tanda terima kasih warga kepada Bapak Habibie karena saat Beliau menjabat sebagai MenRisTek beliau mendirikan IPTN penerbangan di Sukabumi, hal ini juga yang turut memajukan Sukabumi kala itu.

Sepanjang jalur Puncak Habibie ini terdapat beberapa tempat makan yang bisa kalian gunakan untuk beristirahat, pemandangannya pun ciamik karena langsung menghadap ke Pelabuhan Ratu hingga dari kejauhan terlihat kapal-kapal bersender.



Malam telah berlalu diganti langit yang merona di ujung sana, burung berkicau perut keroncongan. Sebelum memulai aktivitas lebih lanjut beberapa dari kami memilih untuk sarapan.

Setelah dirasa cukup sudah kegiatan kami disini, kami melanjutkan menuju Pantai Karang Hawu untuk membersihkan badan dan bermain dengan air laut sejenak, disini pasir pantainya hitam legam dan karang diujung sana menambah nuansa pantai yang indah.
Pantai dan bakso tusuk menjadi saksi atas segala macam canda tawa juga eksistensi melalui jepretan lensa.



"Sini gue yang bawa aja engga papa.."
sebaris kalimat yang gue lontarkan kala ingin mencoba berkendara di Sukabumi dan yaa pada akhirnya gue bawa mobil @atpurnomo dengan sedikit penyesuaian awalnya, menariknya sebenarnya semobil engga ada yang percaya kalau gue yang bawa. Haha, maaf ya gue engga pernah meyakinkan kalau ngapa-ngapain emang.

Perjalanan berikutnya adalah Geopark Ciletuh, di peta sih katanya cuman 10 menit yaaa dan beneran gue juga engga paham medan jalanannya kayak gimana.
Udah buta arah, engga eksplor lewat gmaps ataupun googling mengenai medan jalanannya arah tujuan adalah salah satu hal fatal yang gue lakuin dan ini menjadi pembelajaran terbesar buat gue.

Awal kata, 10 menit itu ternyata untuk destinasi yang berbeda hingga akhirnya ketemulah yang benerannya. Pantai pasir geopark ciletuh, kita memakai titik ini. Perjalanannya pun menurut peta memakan waktu selama 1 jam 28 menit, yaa kasarnya karena kita semua buta arah kita akan memakan waktu kurang lebih 2 jam.

Perjalanan awalnya baik-baik aja, yaa biar dikata gue suka nyenggol kanan kiri sejauh itu mobilnya masih amanlah, haha.. (aman kan bener di?).

Sampai belok kanan belok kiri, naik turun engga pake adat, inilah dia tanjakan yang diluar nalar gue. Maaf ini sama sekali engga kepikiran dan gue emang engga pandai-pandai amat nyetir di tanjakan.
Yap, kalau kalian tau mungkin Tanjakan Dini di jalur sabuk atau jalur baru menuju Geopark Ciletuh, yang curamnya amit-amit sampe ke ubun-ubun. Iya, gue sama sekali engga mewaspadai tanjakan yang ujungnya engga keliatan ini.

Yang setelah gue googling tanjakan ini awalnya bernama Tanjakan Legok sampai akhirnya ada seorang ibu muda bernama Dini yang usai silahturahmi berlebaran tahun 2017 pulang melewati tanjakan ini, tak kuasa menahan beban mobil colt yang ditumpanginya pun jungkir balik ke jurang, membuat Dini dan jabang bayinya yang berusia tujuh bulan wafat. Setelah itu warga sekitar mengganti nama Tanjakan Legok menjadi Tanjakan Dini sebagai pengingat bagi para pelintas agar lebih berhati-hati di tanjakan ekstrem tersebut (source : radarsukabumi.com)


https://images.app.goo.gl/MGZnHe9o9mSe3CT7A
Sumber

Masih dengan gigi dua gue pikir bakal terus sampe ke atas, dengan titik miring 18 derajat kesalahan gue bermula dari telat sadar dan telat pindah gigi sehingga rpm turun dan tidak bisa naik lagi.
Anak-anak langsung berhamburan keluar menahan mobil dari belakang,
Siti terjebak di bangku belakang,
Gue terjebak dengan usaha menyalakan mobil,
Disentak Adi dengan kuat,
“Udah tin, jangan nyalain lagi!”
Gue panik, rem tangan udah gue kondisikan, rem kaki udah gue injek sampe mampus,
Gue udah mulai ilang kontrol sama setir,
Mobil turun perlahan namun sudah berubah arah, tidak lagi lurus,
Mobil turun sudah mulai miring,
Kami makin panik, teriakan handle setir menggaung,
Jurang makin keliatan,
Terselip doa mohon perlindungan Tuhan.

Dari jauh terlihat seorang mas-mas dengan ibunya meminggirkan motor, berlari sekuatnya ke pinggir, secepat yang dia bisa.
Kembali pada kami membawa 2 buah batu besar, menaruh tepat dibawah ban mobil belakang.

“Udah lepas setirnya, engga papa, engga papa, engga bakal turun.” lelaki itu membuka pintu dan menyuruh gue melepas setir terus turun. Jujur tangan gue gak lepas dari gemetaran dan takut ngelepasin rem kaki, entar kalau tiba-tiba nih mobil turun ke jurang begimana, masih ada Siti juga di bangku belakang.

“Saya bantu naikkin ke atas ya,” ucap mas-mas itu dan gue merelakan setir di tangannya.

Tuhan emang Maha Baik.

Gue dan lainnya kecuali Siti berjalan ke atas, dalam hati tentu ada rasa penyesalan, shock dan merasa kurang ajar dengan ketidakbisaan. Rasanya pengen nangis tapi ya ditahan haha.. kasihan kalau gue nangis sama mereka yang setengahnya percaya gue buat nyetir.
Bilang maaf berkali-kali pun kayaknya ya kurang gitu.
Adi dan lainnya tapi lapang dada banget, mereka support gue, bahwa ini semua adalah hal pertama dan kejadian ini adalah kesalahan bareng, kita engga lihat situasi dan kondisi dulu mengingat Sukabumi didominasi sama puncak-puncak dan akses yang aduhai ditambah istilahnya ini bukan mobil yang biasa gue pegang.
Thanks gaes atas kemakluman kalian.
Bener-bener support gue.

Duduk sebentar di saung yang tersedia di puncak, memberikan sedikit rasa terima kasih pada mas-masnya. Kami duduk sambil mengatur nafas. Gue udah engga bisa lagi nyetir. Adi memahami situasi dan mulai megang setir.
Perlahan tapi pasti kami tetap melanjutkan perjalanan ke Pasir Putih Geopark Ciletuh yang ternyata pas sampai disana…….

Air terjun yang didambakan mengucur malah mengering,
Cuaca kelewatan panasnya,
Pantai yang gersang karena engga ada pohon kelapa yang nyantol pisan,
Sepi yang sangat hakiki,
dan jantung yang masih berdegup kencang manakala ingat kejadian barusan.

Kami pun memesan makanan dan minuman dengan sisa tenaga yang ada, memilih menggelar tikar dibawah pohon rindang terdekat dengan pantai.
Menunggu sebentar lalu mulai menata hati, menata perut dan menata pikiran.
Menyiapkan diri untuk makan.
Usai makan, kami merapikan semuanya dan membersihkan tikar untuk kemudian kami pakai tidur dengan alunan musik syahdu dari handphone gue.
Alunan musik dipadu debur ombak dan sepoi angin pantai asin, kami membiarkan diri beristirahat sejenak dari ketegangan yang kami hadapi hari ini dan segala syukur atas hidup yang kami terima.

Ketika sore mulai menjelang, kami memutuskan untuk selesai rehat dan kembali pulang ke penginapan. Ternyata jalanan loji yang kami lewati di awal meski terbilang enggak waras adalah jalanan tercepat, jika memakai jalanan normal butuh kurang lebih tiga jam. Memikirkan efisiensi waktu kami pun meminta mas-mas yang membantu nyawa kami untuk nyetir setidak-tidaknya selesai melewati Tanjakan Dini itu.
Untungnya sih mas-masnya mau meski sepanjang perjalanan gue khawatir banget sama cara nyetirnya yalord.
Mual dah gue.
Dan dia pake segala bilang itu tanjakan udah makan banyak korban, dia bilang bulan kemarin ada mobil pickup bawa jeruk kejungkal terus jeruknya kemana-mana. Oh Oke.

Ah iya, selain naik turunnya pun juga harus lebih hati-hati. Karena kampas rem bisa aja jadi korban selanjutnya, tapi intinya sih kami berhasil selamat baik naik dan turun (dan gue langsung berdoa sambil sujud syukur).

Kami langsung melanjutkan perjalanan ke penginapan yang ternyata bagus banget dan makan direstoran sebelah penginapan yang ENAK BANGET (dibawa ini menunya, biar namanya beda mereka satu atap ya).


Malam ditutup dengan epik karena tiba-tiba mandi-makan-tidur-ngobrol menjadi NIKMAT banget.
Inget mati sama dosa kalau udah begini mah.

Day 2; Bercengkerama – Berfoto – Pulang

Karena jarak ke Gereja lumayan jauh gue pun akhirnya mengurungkan diri untuk gereja dan memilih menikmati waktu di penginapan yang langsung menghadap Pantai Karang Papak ditemani sebungkus kuaci. Nikmatnya tiada tara lurrr..
Melihat laut luas dengan bunyi debur ombak emang selalu menjadi sensasi tersendiri.
Sebentar menikmati laut kami pun beralih bermain air dan berfoto dengan riang tanpa beban.
Sehubungan kita perginya sama orang yang pinter foto jadi seneng aja gitu hasilnya bagus-bagus haha..

Sekilas cerita mengenai penginapan kami nih, BW Beach Café & Villas dimana yang punya itu suaminya orang bule makanya pas kita baru dateng ada banyak orang bule lagi ngecafe di barnya. Penginapannya aseli nyaman banget, biar pake kipas juga tetep aja dingin, kamar mandinya lebih unik lagi karena berupa bilik dan kepala kalian nyembul keluar gitu haha..
Beda cerita ya kalau WC ada di pojokan dan nyaman, airnya pun bersih, Kamar mandi disini juga ada banyak jadi ya gak rebutan-rebutan amat kalau mau mandi, paling waswas aja kalau mau ke kamar mandi tengah malam haha, begitu keluar kamar kamu bisa langsung liat saung dan pantai, nyantai di saung juga asik banget.
Ohiya waktu itu kita booking villa ini dari AirBnB yaa dan dapat diskon pulak jadi senengnya berasa gitu.




Jam 09.00 wib waktunya sarapan dan kami pun nyarap dengan khidmat sambil membicarakan ini itu berputar-putar dan mulai bergantian mandi dan tidur sejenak.
Sepertinya energy seluruhnya terkuras di hari kemarin.
Dininabobokan alam dengan baik, bangun-bangun malah sudah jam 11an siang, kami pun beberes dan bersiap untuk pulang, eits sebelumnya mari kita makan siang dulu di restoran yang tadi malam disambangi. Makan dengan lebih lahap dan energik haha kami sepertinya siap sekali pulang dan menyambut hari esok.

Pada akhirnya kami menutup hari dan berpamitan satu sama lain dengan riang gembira, meski gue sempat membuat semuanya gempar tapi rasa terima kasih jauh lebih besar. Bukan hanya karena Tuhan menolong tapi mereka secara supportif menunjukkan bahwa ‘itu oke, engga papa, kita semua terdampak.’ thanks a lot buat temen ngetrip yang bersedia menjadi santai dan tidak mempermasalahkan saat itu juga.
Gue kangen ngetrip bareng kalean lagi brow!
(dengan catatan jangan kasih gue nyetir lagi deh ya, haha)

Ahiya,
perjalanan ini menjadi catatan penting gue untuk selalu eksplor tempat dan cari tahu lebih banyak mengenai destinasi yang mau dikunjungi meski gue udah pernah ke daerah sana dan selalu tawakal juga rendah hati.



Sumber :
https://travel.tempo.co/read/1247352/kisah-bukit-kembang-di-sukabumi-ganti-nama-jadi-puncak-habibie/full&vi
radarsukabumi.com

12 comments:

  1. Setelah Sukabumi, selanjutnya yuk eksplorasi daerah Cianjur. Banyak air terjun dan wisata lain gak kalah dengan Sukabumi. Termasuk jalannya, tapi aman kalau tanjakan ga ada seperti tanjakan dini...

    ReplyDelete
  2. eksplor kota2 kecil tu menarik ya mbak, ga banyak wisatawan jadi lebih bisa menikmati waktu bersama org terkasih

    ReplyDelete
  3. Wah senengnya yang udah jalan-jalan. Aku masih ngendon aja di rumah, haha. Btw aku blm pernah ke Sukabumi. Banyak yg bilang cakep nih :)

    ReplyDelete
  4. Semoga pandemi segera berlalu supaya bisa jalan2 happy seperti itu lagi ya. Manusia kodratnya tidak di rumah saja seperti sekarang, melainkan juga explore heheee.

    ReplyDelete
  5. Seru banget keliatannya ya, tempatnya asri begitu pas banget buat menghilangkan kejenuhan dari rutinitas

    ReplyDelete
  6. Belum banyak yah yang melirik wisata2 dari kota kecil padahal ada banyak yang khas.. tapi semoga selese pandemi ini bisa segera jalan-jalannya..

    ReplyDelete
  7. Seru banget perjalanannya yhaaa...aku pengen bgt tp apadaya selesai pandemi dan nunggu bayi udh bisa makan bubur dulu laaahhh 😂😂

    ReplyDelete
  8. Ya Allah, aku ikut gemeteran pas baca yang pas sesi Tanjakan Dini itu. Kebayang gimana ngerinya ya pas mengalami kejadian itu. Pasti udah lemeeess banget bawaannya habis itu.

    ReplyDelete
  9. Kaaak...
    Kami juga pernah melorot di perjalanan Sukabumi. Entah di jalan apa...pokoknya melorooott..
    Subhanallahu~
    Kami langsung gak berani haha-hihi lagi, sholawat dan berdoa sepanjang sisa perjalanan.

    **padahal bukan aku yang nyetir, Pak Suami, tapi gemeteran karena sama anak-anak.

    ReplyDelete
  10. Sukabumi....hanya dengar namanya tapi belum pernah kesini....jadi penasaran pengen ke Sukabumi apalagi lihat tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi...semoga pandemi segera berakhir supaya bisa jalan-jalan menghirup udara segar.....

    ReplyDelete
  11. Haduuuuh kalo udah kena tanjakan gini, jantung melorot ke lambung. Hahaah
    syukurlah ketemu mas-mas yang sigap
    btw, tanjakan Dini kok ya jadi sedih karena ceritanya ya.

    ReplyDelete
  12. Baca ini kok rasanya aku kaya ikutan petualang ya mba. Dr kemaren kangeeeennnn banget pengen traveling dan petualang lagi tapi belum tau kapan bisa terlaksana 😭

    ReplyDelete