Sumber
Sore kawan, 

Cerita ini berawal dari rasa penasaran dan ingin mencari sudut Jakarta yang bisa dibuat ngebaca dengan khusyuk. Kafe Arborea menjadi pilihan kala itu. Tempatnya ditengah hutan buatan Kementrian Lingkungan Hidup. Dibangun sebagai penunjang nuansa Asian Games silam oleh Ciputra Group dan setelah Asian Games beralih olah ke Koperasi Kementrian Lingkungan Hidup.

Sore kawan, 

Cerita kali ini disponsori oleh AKBER, siapa itu AKBER, silakan ulik disini bersama dengan Mbak Hanny Kusumawati.  Gue sendiri baru pertama kali nih ikut kelas menulis, biasanya kan menyambangi perkumpulan alien maniak grepe-grepe keyboard (dibaca blogger).

Awalnya agak pesimis karena ada seleksi tapi ya dicoba aja dulu siapa tahu dewi fortuna bersin ke gue yekaan. Menjawab segala pertanyaan sambil berdoa rupanya dewi fortuna bersedia bersin dimuka gue. Yaa ada nama gue kecantum disitu. Bahagia? Beuh bahagia gue. Iya sesederhana itu mah kebahagiaan gue.


Puncak Rasa Bandung

Sekelompok pekerja yang tengah penat dengan rutinitas kantor, mencoba mengumpulkan kepingan semangat lewat liburan singkat.

Itulah gue dan squad enggak jelas yang tiba-tiba terbentuk, atas pertemanan yang bersifat temporer gue akan mentag kalian di blog gue yang nais ini gengs.
Sabtu itu dengan mentari yang sinarnya mengalahkan senyum cemerlang pepsodent gue dan @ndahayu, @ms_fely, @nurrozalani, @atharrytina, @ikkatyas, @nandadhianita pergi menjelajah salah satu tempat wisata di Bogor.

The Ranch adalah lokasi yang dipilih, selain karena tiket masuk Rp 20.000 untuk segala rentang usia, tiket masuknya bisa dituker juga sama susu (tersedia plain, coklat dan strawberry –gue rekomendasiin coklat gengs-) dan inilah yang gue sebut penghematan.
Sumber
Seperti berada di dua pilihan yang sebenernya enggak mau dipilih juga, beginilah kadang orang-orang yang demam travelling bertanya kepada sesama traveler.
“Elo tipe mana, solo atau grup”
Ini tuh semacam pernyataan,
“Elo solo player atau biasa main grup?”
Iye, semacam pernyataan di game RPG (Role Playing Games) yang kalau maen ramean biasanya struktur kalimatnya jadi SPOKK (Subjek Predikat Objek Kata Kasar).

Gue sendiri pikir ini adalah bagaimana kenyamanan individu terhadap hal yang dijalaninnya. Kita semua enggak suka dipaksa kan, dipaksa mencintai aja enggak suka kan #eak..
ini bukan gue, temen gue brosist wkwk


Pernah ke Rangkasbitung?
Pernah dengar Multatuli atau karyanya Max Havelaar?
Atau nama aslinya Edward Douwes Dekker?
Atau selintas drama mengenai Saidjah dan Adinda?
Sumber
Sumber

Sebenernya ini hal yang udah trending lama, gue aja yang sok sibuk dan baru bisa ngeluarin isi otak gue.
Paham yang gue maksud?
Itu loh yang nentuin azab dari nama ataupun tahun lahir kalian.

Yang gue sendiri kalau diurutin jadinya
Koruptor ketindihan mangkok mie ayam
Ngerasa asik enggak sih bisa nentuin azab sendiri?

Setelah gue analisis dan menghasilkan asas praduga, bahwa hal ini terjadi akibat sinetron Indonesia yang azab-azaban,
contohnya Azab orang yang suka ngegas meninggalnya ketimpa gas
Atau Azab orang yang suka buang sampah sembarangan bakal kekubur di TPU
gue ngeri banget kalau ada orang yang suka kentutin temennya, itu azabnya kira-kira bagaimana ya, kalau gue sendiri nafsirnya azabnya adalah dikentutin balik sama yang nyelawat. Jadi acara yang seharusnya berjalan secara khidmat itu menghasilkan parade nada sesuai dengan kapasitas lubang yang tersedia dan menghasilkan suatu melodi luar biasa mungkin sesekali dibubuhi bau atau sedikit yang keluar.

Sudah mulai menjijikkan? oke baiklah mari kita ke topic selanjutnya.
Sumber


Cerita ini berawal dari santai sore di teras rumah gue yang enggak seberapa sambil mandangin ikan-ikan lucu terus ngebayangin enaknya ditepungin, dicabein atau digoreng gitu aja (lalu siap dilempar bata sama kakak gue selaku yang empunya peliharaan).

Sambil ngebayangin ngegoreng ikan seakan dilempar ke masa lalu gue juga jadi inget gimana gue dulu doyan banget maen sepak bola depan rumah atau jajan bajigur dan ah.. satu hal teringat di otak gue yang lebih kecil daripada kepalan tangan gue, terselip sempurna seperti celana dalam di bagian batang otak gue (apakah kalian sudah merasakan kejanggalan hubungan antara ngegoreng ikan sama cerita masa lalu gue? oke abaikan saja gengs).

Cerita misteri dari tukang rujak bebeg, tahu kan kalian rujak bebeg?
Itu loh rujak yang di bejek-bejek, biasanya anak sini ngomongnya babang rujak bebeg paporit, ingat gengs pake ‘P’ ya bukan ‘F’ dan ‘V’.
Nah abang rujak bebeg ini sangat suka bercerita, syaratnya gampang. Ente beli ane ceritain.
Kita para anak-anak muda dengan semangat menggelora yang sangat haus akan kasih sayang cerita anak-anak dengan antusias mengantri membeli untuk mendengarkan cerita yang sangat gue inget sampe sekarang karena itu cerita kebawa sampe mimpi gue. Kalau gue pikir sekarang ini cerita itu sangat tidak mendidik dan rasional hingga gue merasa waktu kecil gue dihabiskan dengan sangat tidak berfaedah.
Kalau anak-anak yang beli sudah dirasa cukup itu babang rujak paporit akan mulai bercerita dengan berdeham dahulu.
Gue yang biasanya barisan paling depan, karena badan gue cukup gede kala itu dan bisa dibilang ‘laki’ bener makanya selalu dapet tempat strategis bisa jadi yang terdepan.


Banyak cara merayakan “Sumpah Pemuda”, quote “Berikan aku 10 pemuda” pun biasanya bergaung dimana-mana. Bersilewaran di sosmed bak model berlenggak lenggok pada hari pementasan, sesudahnya hilang sudah.

Nah,
Di peringatannya yang ke 90 ini, gue pun menyikapinya dengan berbeda. Yeps, gue ikut tur singkat museum sumpah pemuda yang diselenggarakan oleh @MuseumProject.
Direncanakan berkumpul pukul 09.00, acara ini akhirnya ngaret karena bertepatan dengan penyelenggaraan color run dan ditutupnya beberapa akses menuju Museum Sumpah Pemuda yang berada di Jl. Kramat Raya 106.
Sebenernya Museum Sumpah Pemuda ini selalu gue lewatin kalau berangkat ke kantor dan akhirnya kesampean juga di event kali ini.
Sebelum melanjutkan dengan part 2 ini, sebaiknya kalian baca part 1 nya dulu nih gengs

Day 2

Dan inilah 20 jam milik kita dengan tempat yang akan kita kunjungi sebagai berikut :
1.    Toko Oen
2.    Pura Giri Natha
3.    Klenteng Sam Po Kong
4.    Tahu Baxo Bu Pudji
5.    Bandeng Juwana
6.    Wingko Cap Kereta Api
7.    Pasar Semawis (lagi)



Terlalu bosan dengan rutinitas tapi enggak bisa pergi jauh,
Pengennya jalan bareng kawan sekantor sedivisi jadi enggak bisa pergi lama,
Akhirnya dengan kegilaan yang hakiki dan sungguh-sungguh kita pun cabut ke Semarang.

Kenapa kita pilih Semarang, sebenernya agak drama juga nih, sebelumnya kita mau ke Surabaya tapi emang bukan jodoh ternyata kalender yang dipake tanggalannya unvalid karena beda keputusan libur dari pemerintahnya alhasil gatot bener ke Surabaya, enggak habis ide akhirnya kita alihin ke Semarang.

Gue, Fely, Indah dan Ayu adalah squad yang akhirnya terbentuk dadakan dan kalian tahu, sesungguhnya ketika kita mencetuskan ke Semarang kita langsung beli tiket ke sana. Kalian so gilak kawan! haha..

Kita berangkat dengan kereta Tawang Jaya hari Jumat jam 23.00 – 06.15 wib, keberangkatan dari Stasiun Senen – Semarang Poncol
Jadi bayangkan sehabis ngegawe kita sok-an lembur padahal nungguin kereta tengah malem, wekekekek.. ciye rajin dah ah..
Kita juga memilih makan malem didepan stasiun Senen, sebenernya makanan dimari itu enak-enak gengs, jadi kalau misalnya kalian pergi dan enggak sempet makan, ya makan dimari aja.