Udah ada yang nonton Nanti Kita Cerita Hari Ini?
Film yang tenar di masa penayangannya, berhubung gue kurang suka film mengenai keluarga gue cuman nunggu film ini di lain kesempatan jika gue bisa nonton.

Waktu penayangannya juga rame banget di twitter, sepotong-sepotong malah dapet spoiler gimana film ini bekerja kepada orang kebanyakan.
Seputaran timeline membahas betapa miripnya mereka dengan kehidupan baik anak pertama, kedua dan ketiga,
“ah gue mirip banget nih sama anak kedua”
“nah ini tuh beban anak pertama”
“manjanya anak ketiga..”
begitu kira-kira.
 
Dan sejauh itu gue engga menemukan ada yang bilang kehidupannya mirip dengan sosok ayah atau ibu.

“Apakah tidak ada orang tua yang menonton film ini?”


Jangan lupa baca part sebelumnya kawan !

17 Sept 2018

Jujur aja di hari keempat ini gue udah beneran apal sama jalanan Denpasar-guest house, kalau dilepas tanpa gmaps cincailah ini gue muter sendirian kayak orang cerdas.
Pagi ini mari kita awali dengan pergi ke pantai Kuta yang katanya udah enggak seindah dulu tapi percayalah laut selalu tempat terbaik buat gue, meski di Bali ini bukan tujuan utama. Bali memiliki daya pikat luar biasa dengan hikayat yang bisa membuat gue merona sendiri. Sihir Bali tidak akan pernah cukup seperti waktu gue ke Belitung terdapat gejolak keindahan pertiwi yang sulit dilukiskan kata.



Sore kawan,

Gimana kabar hatinya? semoga masih utuh ya hingga sempat dibagikan.Cerita kali ini berasal dari kencan antara gue dan Ibu gue tersayang. Dimana gue memberikan surprise tiket ke Bali sebaik-baiknya bakti anak yang sering banget ngutang ke Ibunya tiap akhir bulan.

Seminggu sebelumnya dengan muka usil gue melipat tiket pesawat dan meletakannya di meja tempat Ibu biasa catat orang yang suka ngutang di warungnya, kala itu gue berharap dia akan membukanya-kaget-terharu-berlari memeluk gue. Namun kenyataan emang enggak semanis tukang gemblong langganan gaes. Nyokap cuman bolak balik kertas itu, diliatnya enggak ada space kosong buat nulis utang langsung diremes. Caranya ngeremes persis kayak ngeremes hati gue... eh buset meski gue tahu itu tiket bisa di reprint ya enggak langsung digituin juga kale Ibu tersayang. Sejadinya gue langsung istighfar disertai kernyitan Ibu.
Singkat kata setelah penjelasan panjang dikali kali, Ibu akhirnya paham dan berakhirlah kami di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta seminggu kemudian diiringi rasa jantung berdegup kencang memulai petualangan kami berdua. BERDUA -zoom in zoom out- Betewe ini kilas balik ya kawan, karena pada akhirnya gue siap membagikan kebahagiaan hakiki ini sama kalian, muah :*

“Kamu tahu, kalau memiliki berarti siap kehilangan?” ucap Dia, duduk menyerong tidak juga menghadap lawan bicaranya. 

Kamu memiringkan kepalamu, melihat dengan jelas wajah Dia.

“Kenapa harus kehilangan jika yakin saling memiliki?” balas Kamu dengan sengit,
 
“Kamu tahu istilah ini, dalamnya lautan kita tahu, dalamnya hati orang kita tidak pernah tahu.”
 
“Kamu tahu, bahwa ketika kamu pergi kamu bisa saja pamit,” Kamu membalas lagi, kemudian Kamu membetulkan posisi duduk. Posisi duduk kini sama sulitnya dengan posisi hatimu.
Meronta tak tentu arah, menuntut penjelasan yang tak kunjung diberikan.

Sore Kawan,

Mari kita melanjutkan cerita sebelumnya, jangan lupa dibaca yaa part 1 nya..

Singkat cerita kami sampai di KLIA dengan muka bahagia dan wajah planga plongo. Ternyata begini toh bandara luar negeri.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 pm, kami memang memakai penerbangan terakhir. Karena ini jam tanggung kalau mau check in hotel kami pun memutuskan untuk menginap semalam di bandara.
Sebelumnya kami sempat mencari sudut-sudut strategis yang biasanya direkomendasikan oleh blog-blog traveler tapi sayang banget, penuh semua. Jadi kami mencari sudut paling nyaman.

Meski merem melek, karena tidur beralaskan lantai cukup membuat badan pegal. Jam 05.00 am kami bangun dan mulai berbenah.
sumber
Sumber

Bagi kami waktu hanyalah sekedar angka pada jam di dinding atau di pergelangan tangan mungilmu. Waktu hanyalah isyarat bagi hati yang tersayat.
Kami tidak mengenal waktu, waktulah yang harus mengenal kami.
Kami tidak mengenal siang dan malam, namun kami tahu malam sama berbahayanya bagi jiwa yang kelaparan.
Jadi, beginilah kami dalam situasi ini.
Siang kami akan menghabiskan kesibukan diluar sana,
Malam kami akan saling memeluk untuk melindungi dari kejamnya dunia.
Dunia kejam?
Rasa-rasanya ada yang janggal, dunia tidak lebih kejam daripada penghuningnya.
Maka izinkan aku menggantinya dengan melindungi dari kejamnya sesama kami.

Banyak yang kusesalkan didunia ini, yang tidak mampu kuatasi dengan baik.
Sama banyaknya dengan kejadian-kejadian yang membuatku tidak mampu memaafkan diriku sendiri.
Luka lama yang dipelihara, tanpa ampun dan pamrih memaafkan diri sendiri.
Menendang keluar segala kearifan dan kebijakan bahwa kesalahan itu murni dari diri sendiri tanpa melihat maaf diselanya.
Aku berdosa tanpa cela.
Dan aku terjebak pada hal itu.
Sampai sesak nafas ini,
Sampai sesak dada ini,
Sampai kadang hilang sadarku didunia ini.

Aku terbebani dosaku sendiri.
Sumber

Apakah kalian selalu memaki hujan?
Apakah kalian selalu menyesal melihat hujan?
Apakah kalian merasa terbebani dengan hujan?
Kalau kalian tanyakan ini kepadaku, maka biarkan aku menari tak tentu arah dibawah guyuran hujan. Merasakan tiap tetesnya menyentuh kulitku dan menjadikan bagiku sebuah kebanggaan dapat bebas layaknya burung tak bertuan, bebas dan tanpa beban. Bebas lalu merasakan sedih. 

Ya, bukankah hujan selalu merasakan kesedihan? 
Manakala dia kembali ke bumi ketika sebentar saja dia merasakan kebersamaannya bersama awan?
Awan telah membawanya naik dari dunia, membawanya mengelilingi tempat-tempat yang indah dan menakjubkan, awan membawanya kepada sebuah dunia baru yang terlihat dari atas sana, awan membawanya kepada sebuah kesenangan yang tak akan pernah dirasakannya diatas dunia. 
Namun, kebersamaan itu hanyalah sebentar ketika awan dan air tidak dapat ditakdirkan bersama. Mereka harus berpisah dan menunggu waktu untuk menghantarkan kembali apa yang seharusnya bersatu.
--0--


Garut Gurilps atau dalam ejaan Sunda berarti Gemerlap, menuntut pemahaman akan hal itu aku pun beranjak dari Jakarta menuju Kota ini. 
Kakak kelas selama di Asisten Laboratorium memiliki peran dalam perjalanan kali ini. 
Karena dialah perjalanan ini terlaksana dan aku menemukan pengalaman yang berbeda.
Yap, dialah Christian dan Aji, tidak lupa dengan teman kantorku yang kebetulan senggang Indah.

Angin dingin malam itu berhembus, namun tak sedingin gelora yang kami rasakan. 
4 orang dengan muka berantakan usai kerja dengan semangat menggebu duduk manis di stasiun Senen malam itu, kami siap dan sangat siap pergi membelah angin Jakarta hingga Garut.

13 Desember 2019

Perjalanan ini dimulai dengan bertukar sapa, duduk sebentar terlelap kemudian. Kami menaiki kereta Serayu pukul 21.25 wib seharga 63ribu dengan estimasi tiba 02.15 wib

Ada rasa sesak didada setiap kali mengenang Ayah.
Ingatanku yang nyata terbayang, tercetak jelas di sanubari manakala dia berjalan memakai tongkat keliling rumah atau keliling komplek rumah, prodiakon yang selalu datang memberikan hosti orang sakit, duduk di kursi roda sampai akhirnya tidak sanggup bangun dari tempat tidur.

Ayahku kena stroke saat aku duduk di kelas 5 SD.
Entah bagaimana menyebutnya, apakah itu pengalaman pahit atau manis, asam atau lainnya.
Saat mengenangnya, kupastikan aku menangis.
Ketika melihat seseorang dengan penyakit yang sama dengannya, kupastikan aku menangis.
Air mataku keluar begitu saja. Entahlah.
Katakanlah aku begitu merinduinya.