Sore Kawan,
Hari cerah itu di grup dolanan ada notif yang berisi list. Tahu-tahu udah ada list aja, kaget akutuh.
Iya, ini list nanjak Gunung Batu, Jonggol-Bogor Barat.
Biasanya tahu nama Jonggol aja dari tempat syuting film nah ternyata disana ada Gunung Batu juga? Uedan, kuper banget gue.

Singkat cerita karena pengangguran banget ditanggal itu, ngedaftarlah gue. Untuk keberangkatan sendiri kebagi menjadi dua. Satu dari Bekasi Timur satu lagi dari Depok punya cerita.
Karena gue termasuk alien Bekasi, jelas gue berangkat dari Depok Bekasi. Apalagi gue kejatahan ngendarain UFO yang akan mengantarkan aliansi Bekasi ke Gunung Batu.
Berangkat jam 11.00 wib sampai jam 13.00 wib, gak percuma gue naik UFO perjalanannya lancar ditambah orang-orang kayaknya masih lomba lari dari kenyataan atau lomba melupakan mantan sehubungan dengan 17an anti mainstream.




nb : Jangan lupa disetel dulu musiknya biar syahdu


Sore kawan,
Bahkan ketika 21 tahun terasa begitu panjang dan akhirnya fisik Rumah Tuhan yang diidamkan terwujud.
Satu kalimat yang terbersit dalam kepala gue,
"Oh, jadi begini rasanya punya gereja sendiri.."



Sore kawan,

Apakah sudah pusing melihat judulnya?
Iyaps, kali ini kita mengunjungi Negeri Jiran yang juga menjadi kunjungan luar negeri pertama buat gue.

Deg-degan?
Rasa haru?
Atau malah tragis?
Pertama-tama izinkan sahaya membeberkan dulu bagaimana kronologis kedatangan ke Bandara, karena hal ini benar-benar patut dikenang hingga mau nangis rasanya.

Dimulai pada sore itu,
Pesawat kami take off jam 21.00 dan jam 17.30 kami masih nyantai dikantor. Padahal jam 18.30 kami sudah harus menaiki kereta bandara. Jalanan Jakarta emang bener-bener unpredictable dan entah kenapa hari itu macet dari pagi sampai malam.



Sore kawan,

Ketika sore menjelang dan kebetulan gue lagi surfing di youtube, rasanya gue menemukan sesuatu yang menarik antara lagu Shin Yue dan Sherina Munaf.
Kedua lagu yang memiliki nada persis tapi lirik yang berbeda, awalnya gue pikir lagu ini merupakan terjemahan tapi ya kok enggak ada beritanya sama sekali.

Cekidot gue kasih nih lagunya, coba kawan bantu jawab apakah ini duplikasi atau memang ada kerja sama spesial di antara mereka?





Sore kawan,

Udah tahu kan transportasi yang lagi booming tuh di Jakarta, iyak itulah MRT atau Moda Raya Terpadu dalam bahasa Indonesia baku. Sebagai anak blogger gagal kaya dan tenar gue pun memutuskan untuk cari tahu kapan sih bisa nyoba kereta bawah tanah itu secara gratis.

Nah untuk Ujicobanya ini pemerintah bekerjasama dengan pihak ketiga yaitu Bukalapak, tapi sebelumnya bisa buka nih di ayo coba mrt biar dialihkan ke halaman bukalapaknya dan kamu bisa pesan lewat situ.
Yang perlu diperhatikan adalah :

1.    1 akun Bukalapak kalian bisa pesan maksimal 2 tiket
2.    Pendaftaran di Bukalapak adalah untuk menentukan kalian naik darimana, bila memang ada perubahan stasiun keberangkatan bisa dilaporkan dulu ke pihak Bukalapaknya yaa
3.    Menariknya kalian bisa turun di Stasiun mana aja dan bsa dapetin snack enak setelah isi kuisioner mengenai MRT



 Sore kawan,

Sore ini gue menyeduh teh hangat dengan sebungkus biskuat agar lebih kuat menghadapi kenyataan dunia ini. Kenangan mulai terlempar, tidak sampai setahun namun rasanya cocok saja menceritakan kala sore menorehkan senyum.

Tempat yang menurut gue adalah sebuah tempat dengan kekuatan magis, letaknya tidak jauh dari Ibukota ataupun Planet yang gue huni sekarang.
Yep, cuman butuh sekitar satu jam atau ya dua jam kalau hanya mengandalkan gmaps dan sedikit ketidakpekaan terhadap peta dan main ambil arah lain.


Sore kawan,

Kali ini cerita dimulai dari janji temu oleh teman yang dikenal dari event bukalapak, Eka dan Dewi adalah kedua orang itu, berawal dari obrolan bareng berlanjut sampai sekarang.
Kafe Dialogue dirasa cukup menampung semua rasa rindu tak lama bersua dan bercakap, tiga gelas minuman menemani siang terik kala itu di sela makanan ringan mengiringi tawa dalam canda.

Suasana kafe kala itu sungguh menyenangkan, mungkin karena matahari diatas kepala dan pengunjung yang terlihat masih belum banyak. Kafe ini dibagi menjadi dua ruangan, ruangan ber-ac dan non ac. Dalam ruangan ber-ac kalian akan disuguhkan lampu temaram dengan kolam air yang berada disebelah kasir. Di ruangan non ac yang terbagi juga menjadi dua, satu tepat disebelah ruangan ac dengan konsep atap yang terbuka dan satu lagi dengan konsep berjendela. Kami memilih ruangan non ac untuk menikmati semilir angin hasil suguhan halaman belakang yang lapang.
Karena kafe ini tergabung dengan gallery, tiap ruangan disekat oleh beberapa seni artistik dan beberapa karya (sehubungan rasa nyeni gue kurang jadi ya gue hanya bisa mengamati sembari mengira-ngira pesan yang tersirat).
Salah satu hal yang terkenal di kafe ini adalah instalasi tangga melayangnya. Dimana ketika kalian berpose diatasnya orang pasti akan bertanya, ‘apakah tangga itu melayang?’

Sumber

Sore kawan,

Di senja satu hari sebelum ini datanglah kawan menitipkan surat, aku bertanya
"pada siapa harus kusampaikan"
Seulas senyum lalu dia mengatakan,
"pada Cintalah kamu harus menyampaikannya"

Dengan segala kerendahan hati semesta aku pun memberanikan diri membuka surat itu, mengintip siapa yang dimaksud dengan Cinta itu.
Beginilah bunyinya..

Sumber
Sore kawan,

Dari judul kelihatannya pasti gue keren banget, ke suatu tempat membawa semacam misi. Iya kali ini emang beneran gue bawa misi, misi mengenai masa depan seseorang.

Seseorang itu kakak gue, doi lagi nyoba ngelamar ceweknya dan gue disini berperan sebagai supir tol.

Kakak gue udah 6 tahun mengarungi pacaran ala ibukota dan ceweknya ngerasa ini adalah waktu yang tepat untuk beranjak dari status “pacar” menjadi lebih serius “istri dan ibu dari anak-anak”. Mereka mencoba serius dan gue sekali lagi adalah supir tol yang setia mengarungi tol Cipali.




Sore kawan,

Di Jakarta? Weekend?
Jangan sedih, meski Jakarta terkenal banget sama gaya hidupnya yang hedon atau apa-apa serba mahal, sebenernya ini sih tergantung kemana kalian ngelancong kawan.
Kalau ngelancongnya kelasan museum macan yang menurut gue karya heroik, seni kelas atas atau Dufan (dimana gue kalau kesini pasti cari promoan dulu) atau ke mall macem Grand Indonesia, Plaza Senayan dan bangsanya gue yakin seratus persen kalian akan mengatakan bahwa gaya hidup Jakarta adalah hedonisme.