Part I    : Penembakan

“Boleh pacaran?” entah seperti sebuah pernyataan atau pertanyaan, yang jelas lelaki yang duduk di hadapan gue sekarang ini sedang meminta sebuah jawaban atau kesanggupan.

Namanya Bono, lengkapnya Bono Prawira. Panggilannya Bonbon, lucu sih cuman kayaknya gak macho gitu padahal dia ketua Mapala tingkat kampus, orang gila yang hobi banget manjat, entah manjat pohon, manjat tebing, manjat tiang, manjat gunung eh maaf nanjak itu bahkan manjat hati gue sekarang ini duh kata-kata gue mulai menjijikkan.
Anaknya enggak terlalu tinggi, sekitar 173cm dengan kulit yang benar-benar well done, iya matang bolak balik bahkan gue gak bakal sadar cowok keling sempurna di hadapan gue ini keturunan Jawa Tengah kalau dia enggak cerita orang tuanya berasal dari Solo.

Sebelum lanjut gue ngenalin diri gue dulu ya, sedikit narsis cuman biar kita kenal aja. Sebagai pembaca harus tahu dong siapa tokoh utamanya. Iya gue, nama gue Mona Beldan. Beldan nama keluarga gue dan memang pengejaannya agak mirip sama well done ya, gue jadi merasa mulai ada kemiripan sama Bono. Dengan rambut panjang yang sering gue iket, badan kayak malnutrisi dan baju gombrong seakan menyadarkan kalian bahwa tokoh utama kali ini berasal dari kalangan biasa saja dan lumrah ditemui di kampus-kampus terdekat. Kerjaan gue kalau enggak jadi Kupu-Kupu (Kuliah Pulang) ya sesekali diajakin nongkrong sama alien sejenis. Ya, gue ada golongan unfaedah di kampus yang cuman menuhin bangku depan yang umumnya dihindarin sama teman-teman berfaedah.

Selesai di Banyuwangi bukan berarti liburan usai, transit di Surabaya selama 6 jam gue maksimalkan dengan sangat baik.
Sebelumnya mari singgah dulu di part 1 : Banyuwangi Bagus Part 1
dan di part 2 : Banyuwangi Bagus Part 2

Senin, 16 September 2019

04.50 gue tiba di Stasiun Surabaya Gubeng, meluruskan badan dan menunggu sebentar di stasiun, gue memutuskan membunuh 6 jam untuk berkeliling Kota Surabaya. Jam 05.00 wib gue memutuskan untuk memulai hari dengan misa harian di Gereja Kristus Raja.

Tujuan 1 :Gereja Kristus Raja


Ini adalah destinasi pertama gue di kota Surabaya sebelum memulai aktifitas selanjutnya, yaps Misa Harian, Misa harian di mulai pukul 05.30 wib.


Sebelum lanjut, jangan lupa baca part 1 nya dulu gaes Banyuwangi Bagus Part 1

Jumat, 13 September 2019

23.30 wib

Pintu sebelah yang diketok sama Mas Rahmat gue yang bangun. Jadi Mas Rahmat bilang ada yang mau barengan kita lagi 2 orang baru tiba sore tadi.
Luar biasa juga mereka baru dateng udah mau nanjak.

Menembus malam gelap dengan suhu Banyuwangi yang luar biasa. Gue dengan gegayaan ngendarain sendiri. Haha superb emang, padahal mereka udah nawarin diri gitu tapi ya gue pengen ngerasain gimana sih rang orang itu pada touring ke puncak dengan suhu begitu dan masih kuat. Iya gue kuat banget, kuat menggigilnya haha.. Makin ke puncak gigi gue gemeletuk gak karuan, sambil goyang-goyang dan coba fokusin mata mari kita bersemangat gaes menuju puncak impian di hati.

Akhirnya gerbang Taman Kawah Ijen terlihat, disini ada retribusi gerbang nih sebesar 5.000 IDR per orang dilanjut beberapa menit akhirnya pos Paltuding keliatan. Ah iya ada parkir juga, kalau kalian bayar parkir pas di parkiran jangan dibuang karcisnya ya, nanti pas di Pos Paltuding kalian akan diminta bayar parkir nah bisa deh tunjukkin tuh karcis parkir jadi dapet potongan harga, gue rasa kalau masukkin kode promo bisa jadi free haha canda..


Sore kawan,
Sayup-sayup terdengar suara musik gandrung disela-sela suara announcer stasiun Pasar Senen. Ya, gue sedang mendengarkan musik gandrung khas Banyuwangi untuk meresapi perjalanan ke Banyuwangi.

Rabu, 11 September 2019
Perjalanan dimulai dari Stasiun Pasar Senen ke Lempuyangan jam 21.30 malam, gue memilih perjalanan malam ke Lempuyangan dan bukan Stasiun Pasar Gubeng guna menghemat waktu, so buat kalian yang mau lebih menghemat waktu bisa nih milih tujuan Lempuyangan.

Sebentar duduk datanglah seorang gadis penghuni bangku sebelah, mencoba ramah gue menjulurkan tangan lalu dilanjut obrolan dan nonton bareng sampai dia turun di Stasiun Purwokerto, gadis itu namanya Novi, dari Purwokerto ke Cikarang mau cari kerja. Well, baiknya ketika gue sampe di Banyuwangi dia DM (kebetulan gue demen banget tukeran IG) nanyain udah sampe Banyuwangi, ah carenya si dedek emesh satu ini~



Sore Kawan,
Hari cerah itu di grup dolanan ada notif yang berisi list. Tahu-tahu udah ada list aja, kaget akutuh.
Iya, ini list nanjak Gunung Batu, Jonggol-Bogor Barat.
Biasanya tahu nama Jonggol aja dari tempat syuting film nah ternyata disana ada Gunung Batu juga? Uedan, kuper banget gue.

Singkat cerita karena pengangguran banget ditanggal itu, ngedaftarlah gue. Untuk keberangkatan sendiri kebagi menjadi dua. Satu dari Bekasi Timur satu lagi dari Depok punya cerita.
Karena gue termasuk alien Bekasi, jelas gue berangkat dari Depok Bekasi. Apalagi gue kejatahan ngendarain UFO yang akan mengantarkan aliansi Bekasi ke Gunung Batu.
Berangkat jam 11.00 wib sampai jam 13.00 wib, gak percuma gue naik UFO perjalanannya lancar ditambah orang-orang kayaknya masih lomba lari dari kenyataan atau lomba melupakan mantan sehubungan dengan 17an anti mainstream.




nb : Jangan lupa disetel dulu musiknya biar syahdu


Sore kawan,
Bahkan ketika 21 tahun terasa begitu panjang dan akhirnya fisik Rumah Tuhan yang diidamkan terwujud.
Satu kalimat yang terbersit dalam kepala gue,
"Oh, jadi begini rasanya punya gereja sendiri.."



Sore kawan,

Apakah sudah pusing melihat judulnya?
Iyaps, kali ini kita mengunjungi Negeri Jiran yang juga menjadi kunjungan luar negeri pertama buat gue.

Deg-degan?
Rasa haru?
Atau malah tragis?
Pertama-tama izinkan sahaya membeberkan dulu bagaimana kronologis kedatangan ke Bandara, karena hal ini benar-benar patut dikenang hingga mau nangis rasanya.

Dimulai pada sore itu,
Pesawat kami take off jam 21.00 dan jam 17.30 kami masih nyantai dikantor. Padahal jam 18.30 kami sudah harus menaiki kereta bandara. Jalanan Jakarta emang bener-bener unpredictable dan entah kenapa hari itu macet dari pagi sampai malam.



Sore kawan,

Ketika sore menjelang dan kebetulan gue lagi surfing di youtube, rasanya gue menemukan sesuatu yang menarik antara lagu Shin Yue dan Sherina Munaf.
Kedua lagu yang memiliki nada persis tapi lirik yang berbeda, awalnya gue pikir lagu ini merupakan terjemahan tapi ya kok enggak ada beritanya sama sekali.

Cekidot gue kasih nih lagunya, coba kawan bantu jawab apakah ini duplikasi atau memang ada kerja sama spesial di antara mereka?





Sore kawan,

Udah tahu kan transportasi yang lagi booming tuh di Jakarta, iyak itulah MRT atau Moda Raya Terpadu dalam bahasa Indonesia baku. Sebagai anak blogger gagal kaya dan tenar gue pun memutuskan untuk cari tahu kapan sih bisa nyoba kereta bawah tanah itu secara gratis.

Nah untuk Ujicobanya ini pemerintah bekerjasama dengan pihak ketiga yaitu Bukalapak, tapi sebelumnya bisa buka nih di ayo coba mrt biar dialihkan ke halaman bukalapaknya dan kamu bisa pesan lewat situ.
Yang perlu diperhatikan adalah :

1.    1 akun Bukalapak kalian bisa pesan maksimal 2 tiket
2.    Pendaftaran di Bukalapak adalah untuk menentukan kalian naik darimana, bila memang ada perubahan stasiun keberangkatan bisa dilaporkan dulu ke pihak Bukalapaknya yaa
3.    Menariknya kalian bisa turun di Stasiun mana aja dan bsa dapetin snack enak setelah isi kuisioner mengenai MRT



 Sore kawan,

Sore ini gue menyeduh teh hangat dengan sebungkus biskuat agar lebih kuat menghadapi kenyataan dunia ini. Kenangan mulai terlempar, tidak sampai setahun namun rasanya cocok saja menceritakan kala sore menorehkan senyum.

Tempat yang menurut gue adalah sebuah tempat dengan kekuatan magis, letaknya tidak jauh dari Ibukota ataupun Planet yang gue huni sekarang.
Yep, cuman butuh sekitar satu jam atau ya dua jam kalau hanya mengandalkan gmaps dan sedikit ketidakpekaan terhadap peta dan main ambil arah lain.