Penghuni Hujan

Sumber

Apakah kalian selalu memaki hujan?
Apakah kalian selalu menyesal melihat hujan?
Apakah kalian merasa terbebani dengan hujan?
Kalau kalian tanyakan ini kepadaku, maka biarkan aku menari tak tentu arah dibawah guyuran hujan. Merasakan tiap tetesnya menyentuh kulitku dan menjadikan bagiku sebuah kebanggaan dapat bebas layaknya burung tak bertuan, bebas dan tanpa beban. Bebas lalu merasakan sedih. 

Ya, bukankah hujan selalu merasakan kesedihan? 
Manakala dia kembali ke bumi ketika sebentar saja dia merasakan kebersamaannya bersama awan?
Awan telah membawanya naik dari dunia, membawanya mengelilingi tempat-tempat yang indah dan menakjubkan, awan membawanya kepada sebuah dunia baru yang terlihat dari atas sana, awan membawanya kepada sebuah kesenangan yang tak akan pernah dirasakannya diatas dunia. 
Namun, kebersamaan itu hanyalah sebentar ketika awan dan air tidak dapat ditakdirkan bersama. Mereka harus berpisah dan menunggu waktu untuk menghantarkan kembali apa yang seharusnya bersatu.
--0--

Garut Gurilaps - 4D4N


Garut Gurilps atau dalam ejaan Sunda berarti Gemerlap, menuntut pemahaman akan hal itu aku pun beranjak dari Jakarta menuju Kota ini. 
Kakak kelas selama di Asisten Laboratorium memiliki peran dalam perjalanan kali ini. 
Karena dialah perjalanan ini terlaksana dan aku menemukan pengalaman yang berbeda.
Yap, dialah Christian dan Aji, tidak lupa dengan teman kantorku yang kebetulan senggang Indah.

Angin dingin malam itu berhembus, namun tak sedingin gelora yang kami rasakan. 
4 orang dengan muka berantakan usai kerja dengan semangat menggebu duduk manis di stasiun Senen malam itu, kami siap dan sangat siap pergi membelah angin Jakarta hingga Garut.

13 Desember 2019

Perjalanan ini dimulai dengan bertukar sapa, duduk sebentar terlelap kemudian. Kami menaiki kereta Serayu pukul 21.25 wib seharga 63ribu dengan estimasi tiba 02.15 wib

Setelah Ayah Pergi

Ada rasa sesak didada setiap kali mengenang Ayah.
Ingatanku yang nyata terbayang, tercetak jelas di sanubari manakala dia berjalan memakai tongkat keliling rumah atau keliling komplek rumah, prodiakon yang selalu datang memberikan hosti orang sakit, duduk di kursi roda sampai akhirnya tidak sanggup bangun dari tempat tidur.

Ayahku kena stroke saat aku duduk di kelas 5 SD.
Entah bagaimana menyebutnya, apakah itu pengalaman pahit atau manis, asam atau lainnya.
Saat mengenangnya, kupastikan aku menangis.
Ketika melihat seseorang dengan penyakit yang sama dengannya, kupastikan aku menangis.
Air mataku keluar begitu saja. Entahlah.
Katakanlah aku begitu merinduinya.

Jelajah Ciayumajakuning 2D1N



Sore cerah menghampiri hari ini, tak lupa kusapa dulu yang sedang asik menekan diri demi keselamatan banyak orang dengan berada di rumah.
Selamat menunaikan hashtag #dirumahaja bagi kita semua.

Sore Kawan!
Cerita Sore kali ini balik dengan mengetikkan satu dua lembar berbagi pengalaman luar biasa di tahun 2019 yang lupa dikata-katai akibat kekhilafan duniawi lalu melupakan fans blog ini yang engga tahu sih sebenernya kalian tersesat atau bagaimana.

Liburan 2 hari 1 malam (02-03 Nov 2019), kali ini aku membawa rekan sejawat untuk menjajaki keindahan bumi perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Dengan @ms_fely @indahhayu @yenni_hafiz dipandu sales kenamaan dari kota Cirebon @m.septian.n

Pukul 06.30 wib kami berempat sudah duduk manis di bangku stasiun Senen. Berbekal lontong berisi hati dan sayur, segenggam roti dan sebotol air.
Hari ini starterpack yang memadai membuat semangat kian membara.

Sabtu Bersama di Stasiun MRT



“Stasiun MRT terdekat dimana ya?” tanya gue pada barista di kedai kopi. Siang itu cukup pekat hingga gue menyingkir ke dalam kedai kopi Ratangga sehabis pertemuan MUA (Make Up Artist).

“itu stasiun MRT mbak, Stasiun Blok A” lelaki disebelahku langsung menjawab diiringi senyum barista tersebut, gue memiringkan kepala dan terlihat eskalator ke atas

“mau diantar?” tawar lelaki itu sembari tertawa kecil

“boleh” gue mengiyakan dengan yakin yang membuat lelaki itu mengatupkan mulut dan tak lama tertawa kencang

“Mau kemana emangnya?” tanyanya

“mau naik MRT yang terdekat dengan stasiun KRL” ujarnya

“wah perjalanan jauh ya, gue juga sih. Arah Lebak Bulus” sahutnya

“Arah Manggarai. Salam” gue mengacungkan tangan meminta handshake dan dia menyanggupinya sembari menghormat.
Bagi orang lain ini seperti moment absurd tapi bagi kita ini malah jadi awal pembicaraan.

“Kenapa bisa arah Lebak Bulus nganterin orang yang mau turun di stasiun terdekat dengan KRL?” ucap gue begitu tersadar bahwa arah Lebak Bulus bertentangan dengan arah yang gue tuju

“Yang pertama lagi senggang, yang kedua mbak nya cakep” jawab dia ala kadarnya

Jumat di Stasiun Commuter

Sumber


Pernahkah kamu sekali saja berpikir bahwa seorang yang kini sedang berada di dekatmu, ada disaat kamu membutuhkan, ada tiap-tiap harinya, adalah jodohmu?

Namaku Kinta, panggil saja begitu. Layaknya orang yang baru kenal lalu kamu lupakan begitu saja seperti angin lalu, begitulah aku. Mungkin kita berkenalan hari ini, esok bila bertemu kita hanya bertegur sapa, jeda dua hari tidak bertemu dan kita lupa bahwa kita pernah saling mengenal atau sekadar menyapa dalam hangatnya pagi.

Orang datang dan pergi. Tidak sesuka hati mereka. Semua tergantung apakah kamu memutuskan untuk membiarkannya berlalu begitu saja atau ada andil dalam mempertahankannya.

Lelaki itu, Fajar.
Badannya berisi, kacamata membingkai wajahnya dengan apik.

Kami berkenalan lewat grup WhatsApp komunitas Anker (Angkutan Kereta), lebih tepatnya komunitas itu perantara. Senja merekah dan pesan itu ada di situ begitu saja.

‘Nama gue Fajar, dapet nomor lu dari komunitas Anker, boleh kenalan? (kalau engga berkenan pake gue elu, aku kamu juga boleh)’