Hari Terindah

 Fiksi

Hai,
Apa kabar?
Apa kabarmu baik? Apa kamu baik-baik saja?
Apakah hari ini baik untukmu?
Apakah hari ini buruk untukmu?
Apakah ini hari yang bersedih?
Apakah ini hari yang membuatmu tertawa?
Apakah ini hari candu tak terlupakan untukmu?


Menyenangkan mendengar kabarmu baik-baik saja, meski dirundung gelap sekalipun sinar hanya menyelinap, senang melihatmu bisa tersenyum, senang mendengar tawamu yang meski masih digelayuti kekhawatiran masih bisa terdengar merdu.
 
Aku?
Kamu menanyakan kabarku?
Betapa baiknya kamu mau mengingatku setelah aku mengingatmu.
Aku baik-baik saja meski lampu dirumah selalu mati dan aku diselimuti rasa dingin.
Aku baik-baik saja meski gelap dan tak ada setitik terang.
Aku baik-baik saja meski diluar hujan namun pipiku yang basah.
Meski semua bilang aku tak baik dan aku berkata aku tidak apa-apa.

 

Namun hari itu berbeda,
Ada yang berbeda dari hari-hariku sebelumnya.
Melalui lagu yang aku sukai aku mulai menari dan sedikit-sedikit tersenyum.
Sinar matahari hangat itu mampir ke jendela kamarku, menghangatkan wajahku lalu sekujur tubuhku.
Rasanya sudah tidak dingin lagi,
Rasanya sudah tidak membeku lagi,
Rasa itu menjadi candu, teringat kekal pada memoriku yang terbatas.
Aku menginginkan sinar yang lebih, maka aku lompat dari jendela kecil kamarku dan memeluk sinar itu sebanyak-banyaknya.
Ah, pada siapakah aku selama ini?
Aku telah tenggelam dalam pikiranku sendiri hingga lupa bahwa sehangat ini mentari, seindah ini rembulan.
Pada nona matahari dan tuan bulan yang telah dinyanyikan dengan sempurna oleh Monita Tahalea.
Aku mengenang ini sebagai hari terindahku. 



No comments:

Post a Comment