21 Tahun Penantian




nb : Jangan lupa disetel dulu musiknya biar syahdu


Sore kawan,
Bahkan ketika 21 tahun terasa begitu panjang dan akhirnya fisik Rumah Tuhan yang diidamkan terwujud.
Satu kalimat yang terbersit dalam kepala gue,
"Oh, jadi begini rasanya punya gereja sendiri.."


Hari itu gue berdiri tercenung, kami akan mengadakan gladi bersih untuk persiapan peresmian gereja. Dengan beberapa pekerja yang masih sibuk dan debu yang berterbangan gak mengganggu kekaguman gue pada Rumah Tuhan ini.
Sebelumnya ketika ibadah susah payah, jadwal gak menentu dan harus menumpang gedung serbaguna sangat merasa nelangsa begitu sulit untuk beribadah meskipun agama yang kami anut diakui.

Banyak berita berseliweran, entah menyelengkat fakta atau membuat fiksi yang terlihat nyata.
Kami merasa benar dan tak gentar, tujuan hanya satu untuk membuat atap agar kami dapat beribadah dengan nyaman.
"Kristenisasi" begitu awal mereka menyebut kami, "Gereja terbesar se-Asia Tenggara" begitu selanjutnya mereka berkata, "Penipuan IMB" dan berlanjut sampai peresmian gereja.
Begitu banyak fakta dan hoaks bersileweran membuatku penasaran bagaimana cara Tuhan bekerja kemudian meredakan hal-hal ini.

Membangun Gereja pun sesungguhnya bukan perkara mudah, disana terdapat usaha besar, penggalangan dana digencarkan mulai dari paduan suara dari gereja ke gereja, ah.. aku ingat bagaimana harus bangun jam 03.00 pagi hanya untuk pergi ke ujung Jakarta mempersembahkan suara-suara terbaik yang kami miliki. Bagaimana perjalanan yang kami tempuh bersama, lelah yang kami miliki. Bagaimana kami saling menyemangati kala itu.

Lalu bagaimana penggalangan dana yang digulirkan per lingkungan agar kami saling bahu membahu, bagaimana bangku-bangku untuk gereja dijual dan berbagai cara dilakukan agar pengumpulan dana terkumpul. Gereja ini adalah milik bersama, begitu sejatinya. Maka semua yang terkandung, yang tersusun dan tertata adalah kepunyaan jemaatnya. Aku pun menjadi bagian dari itu semua.

Maka ketika kini berdiri dengan tegak meski membelakangi jalan raya untuk tidak menimbulkan huru hara berlebihan, dalam syukur kami tersenyum bangga. Mengingat bagaimana usaha yang kami torehkan bersama untuk terwujudnya rumah ini. Ah, kebanggaan hakiki. Setelah sekian lama tidak punya sekarang punya. Bersyukur umurku panjang untuk melihat semua ini.


1 comment:

  1. aah, ikutan happy bacanya :). semoga toleransi di indonesia ini semakin kuat ya mba. aku muslim, tp aku sediiih banget kalo baca berita ttg orang2 yg menggerebek tempat ibadah org lain :(. Ntah apa yg ada di pikirannya. Bahkan di agama manapun, ga prnh diajarkan utk tidak menghormati pemeluk agama lain

    ReplyDelete