Diantara Solo dan Group Travel

Sumber
Seperti berada di dua pilihan yang sebenernya enggak mau dipilih juga, beginilah kadang orang-orang yang demam travelling bertanya kepada sesama traveler.
“Elo tipe mana, solo atau grup”
Ini tuh semacam pernyataan,
“Elo solo player atau biasa main grup?”
Iye, semacam pernyataan di game RPG (Role Playing Games) yang kalau maen ramean biasanya struktur kalimatnya jadi SPOKK (Subjek Predikat Objek Kata Kasar).

Gue sendiri pikir ini adalah bagaimana kenyamanan individu terhadap hal yang dijalaninnya. Kita semua enggak suka dipaksa kan, dipaksa mencintai aja enggak suka kan #eak..
Banyak alasan yang dipilih solo atau grup, bahkan setiap pilihan pun punya keunggulan masing-masing, kalau gue boleh jabarkan nih gengs, beginilah kira-kira :


a.    Enggak keliatan Ngenesnya
Kenapa gue taruh di pertama? karena inilah yang paling sering gue alamin. Jadi begini jelas banget kentaranya ya kalau kalian pergi ke satu daerah dimana nginepnya ya sendiri jalannya ya sendiri. Ketika kalian ramean kalian merasakan perlindungan satu sama lain tapi ketika sendirian diri kalianlah yang melindungi.
Jadi soal berlatih kemandirian meskipun terlihat ngenes, solo travelling adalah yang terbaik.

b.    Berat sama Dipikul Ringan sama Dijinjing
Mulai dari transportasi sampai akomodasi, disini budget pun mulai terasa banget. Kalau ramean ya modelnya sharing, semua pengeluaran bersama ya ditanggung bersama. Backpacker dengan budget kere pun bisa dijangkau dengan mudah lain hal kalau solo, kita beneran harus mikirin penginapan teraman sampai transportasi, selalu siap powerbank juga karena ketika gmaps menjadi andalan maka baterai dan kuota pribadi adalah senjata utama, yah minimal kalau enggak itu semua, ilmu bertanya adalah solusinya.

c.    Temen Ngobrol
Grup, mendekatkan yang jauh untuk yang ikut grup Open Trip dan nempelin yang dekat kalau perginya grup serempak. Sharing yang dihasilkan pun berbeda, biasanya kalau open trip dan kalian termasuk orang yang fleksibel ngobrolnya bakalan dapet temen lain yang satu minat dan nambahin list liburan yang makin panjang. Nah kalau kalian solo, teman obrolan kalian adalah tembok, motor dan juga orang yang ditemuin baik di penginapan ataupun warung kopi terdekat. Gue sendiri biasanya makan di warteg atau warkop demi makan pake temen ngobrol. Bisa ngegali lebih dalem juga sih potensi yang ada di wilayah tersebut dan kenal sama warga sekitar.

d.    Kata Sakti : Maaf, Tolong dan Terima Kasih
Kalau ngegrup pake Open Trip asiknya ya pasti ada tukang potonya, nah lain hal kalau private trip apalagi solo. Yang lebih enggak asih sih Solo ya. haha.. jadi lebih kesian gitu. Berbekal tongsis ataupun tripod, yang manapun pengerjaannya pake usaha keras. Kita harus nyesuain angle ataupun pencahayaannya, apapun itu kerja keras bagai kuda, maksimalnya pake kata sakti : maaf, tolong dan terima kasih kepada warga sekitar karena mau fotoin.

e.    Refleksi yang berbeda
Pemaknaannya pun akan berbeda. Jika ngegrup akan ngebuat kita dekat satu sama lain, ada yang bilang bila kalian ingin mengenal siapa teman kalian ajaklah travelling dan temukan kejutan yang bisa saja memuakkan ataupun membuatmu kagum karena berteman bukan hanya menyoal mengenai pandangan hidup namun bagaimana dia menyikap kehidupan itu sendiri. Sedangkan kalau solo ini akan ngebuat kalian fokus hanya pada diri sendiri. Ketenangan dan ketentraman itu tanpa suara canda tawa, ngobrol dengan diri sendiri dan merefleksikannya.

Pada akhirnya travelling apapun itu, ngegrup sampai orang sejagat dibawa ataupun sendirian. Semua punya poin-poin keunggulan atau kelemahan. Tapi ingatlah bahwa karya Tuhan yang agung itulah yang akan menentramkan kegelisahan kehidupan.
Nikmati, Syukuri namun jangan kotori. Yuk ingatkan diri, bahwa hal-hal yang begitu membahagiakan adalah seperti merasakan kehangatan sinar mentari pagi.

No comments:

Post a Comment