Heyho, ada baiknya kalian menonton video singkat diatas sebelum beralih ketulisan yang bakalan buat kalian berfikir dua kali.

Gerakan #SayaSehati ini beranjak dari gerahnya segelintir para pemuda akan media massa yang dinilai tidak terlalu bijak dan terjepit kondisi atasan-bawahan untuk menyebarkan segala informasi, ini semua didukung pula dengan kondisi masyrakat yang tidak mumpuni terhadap info dan kebanyakan pasrah pada ketidakberdayaan untuk menelaah segala informasi.

Siapakah OMK itu?
Sepenting apakah OMK?
Bagaimana peran mereka dalam keluarga?
Apa fungsi mereka dalam keluarga?

Tentunya banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kepala kita, mengenai hal-hal ini.
Menariknya Sie Kepemudaan Paroki Bekasi Utara, Gereja Katolik Santa Klara mengangkat OMK dan Keluarga sebagai topik hangat dalam seminar OMK (Minggu, 02.10.16).
Pembukaan bagi bulan Oktober yang sangat bermakna.

Sebagai pembicara Fr. Charles Lelu Talu, OFM seminar ini dimulai pukul 10.00 wib tepat di Kapel Asri dan dihadiri sekitar 50 orang OMK dari 11 wilayah.
Buat gue sendiri kebanyakan ngeliat muka baru dan kali ini temen-temen dari satu wilayah gue berhalangan hadir, alhasil gue sendirilah yang menampakkan diri di seminar itu.

sumber
Mendung merudung Bekasi, udara pagi yang dingin bahkan membuatku tak mau beranjak dari tempat tidur.
Ya tapi apa boleh buat bahkan beruang yang hibernasi pun harus mencari makan. Kupaksakan diriku bangun dan dengan langkah 2 nyawa aku ke kamar mandi. 

Harus semangat, pikirku. Klien hari ini sangat penting dan aku harus dapatkan project ini. 

Hari yang merudung kelam membuatku memilih menaiki kereta. Kereta seperti membawaku kembali ke nostalgia lama semasa sekolah. Aku selalu menyenangi  naik transportasi satu ini, meski dempet-dempetan namun cepat sampai, memang ada kalanya terlambat tapi tidak terlalu sering. 

Sumber
Mungkin ini yang aku rasakan.
Rasa yang hilang, kini dan nanti mungkin. 

Dia ini, lelaki ini. Datang begitu saja seperti semilir angin yang aku sendiri bahkan tidak tahu darimana asalnya. 

Pagi itu, mendung merudung Bekasi. Aku berdiri menundukkan kepala, menunggu kereta di Stasiun Kranji. Aku tidak tahu apa yang membuatku resah, rasa hujan yang membawa memori lama kembali atau tempat kerja baru yang akan kudatangi. 
One day trip tahun ini sepertinya memang sangat spesial dari ODT tahun tahun sebelumnya. Ditahun ini gue mencari jejak janji dalam keheningan yang sungguh.

Sebenernya bukan karena gue berubah jadi fanatik atau apa, tapi demi menepati janji yang akhirnya gue tepati.

Gue pergi berziarah ke Gua Maria Kanada (KAmpung NArimbang DAlam), Rangkasbitung atau Gereja Katolik St. Maria Tak Bernoda - Keuskupan Bogor.

Perjalanan dimulai dari 05.30 hari minggu (18.09.2016), ketika gue memutuskan untuk siap menapak jalan ini dengan solo backpacker. Mungkin ini bukan pertama kalinya gue dateng kesana tapi ini adalah pertama kalinya gue dateng kesana sendiri.



Setelah melewatkan berbagai hal-hal luar biasa yang ngebuat kepala jungkir balik dan badan menggemuk,
Setelah beralasan akan segera menulis bila sudah menyelesaikan tampilan baru blog yang akhirnya kembali ke simpel,
Setelah menyelesaikan segala kegiatan yang hina dan akhirnya bisa balik lagi memandang layar laptop,
Sungguh gue kangen banget denger suara ketikan keyboard dan suara kamu.. iya kamu.. kamu jodohku yang belum lahir.

Sumber
Hujan semakin besar kawan!
Rintik kemayu itu tidak lagi ramah, dia berubah menjadi bulir besar yang menyakitkan.
Kita sudah tidak bisa bersantai lagi kawan!
Rintik telah hilang tertelan kenangan pahit
Tertelan dan tak mungkin akan kembali.

Hujan semakin membesar kawan!
Sudah tidak ada lagi ampun,
Hujan telah mendendangkan jendela yang longgar,
Menggebrak keras jendela yang terbuka,
Meratap pada atap-atap rumah yang tidak mengerti.

  "Anjing lu"

Mendadak gue langsung nengok ke arah orang yang berteriak, bukan karena merasa diri dimaki tapi lebih kepada rasa kaget.
Jakarta jam sibuk memang sungguh cobaan luar biasa dan barangsiapa yang bisa menghadapinya tentulah orang yang sungguh bertabah hati atau mungkin dipaksakan bertabah ria hingga sesampainya dirumah, melampiaskan kepada tembok putih yang tidak tahu menahu tentang kerasnya aspal kota Jakarta.

Mungkin buat kebanyakan kaum urban yang ngegawe di Jakarta, penatnya pekerjaan dengan gaji yang sok pas-pasan ditambah rumitnya hubungan antar jalanan ibukota menjadi campuran yang lebih nikmat dari es doger Menteng.

Begitu mudah orang terpancing emosi untuk mengatai jalanan dan kemacetan yang luar biasa, belum ditambah dengan bauran bau ketek baju sendiri karena keringnya jalanan ibukota, begitu mentok dan tak sengaja menyenggol keluar kata-kata.
Kata kata yang mulai mengatai atau
kata kata yang dikatai?

Karena Tuhan selalu tau bagaimana membuat gue semangat dan bagaimana menyentuh hati gue. 

Semata-mata tulisan ini bukan hanya untuk pamer, betapa gue beruntung punya Tuhan, bukan juga buat menunjukkan kefanatikan gue terhadap agama gue.
Gue gak pernah bilang agama kalian salah dan agama gue adalah pembawa kebenaran.
Gue berbicara mengenai Tuhan secara hakiki, dan gue ingin bercerita kenapa gue akhirnya buat tulisan ini.

Gue cuman kurang pandai menunjukkan perasaan gue kepada orang lain, kadang gue perlu waktu berhari-hari hanya untuk meyakini bahwa kejujuran adalah hal paling membuat diri beruntung tapi juga harus siap terhadap hasil yang didapatkan.

Hai yah,
Apa kabarmu?
Apa dari sana aku terlihat?
Apa disana lebih indah daripada disini memandang kesana?

Yaa, aku rasa manapun akan indah asal aku mengenang terus dirimu yah..
Kini aku telah dewasa, kakak-kakakku pun begitu. Maaf hari ini tidak bisa bawa cucumu ketika berkunjung, bukannya tidak mau tapi masih tidur.