Hai Cinta!

Sumber

Sore kawan,

Di senja satu hari sebelum ini datanglah kawan menitipkan surat, aku bertanya
"pada siapa harus kusampaikan"
Seulas senyum lalu dia mengatakan,
"pada Cintalah kamu harus menyampaikannya"

Dengan segala kerendahan hati semesta aku pun memberanikan diri membuka surat itu, mengintip siapa yang dimaksud dengan Cinta itu.
Beginilah bunyinya..




Hai Cinta,
Apa kabar?

Aku merasa berada di titik terendah,
Sekelebat  bayangan Masa Lalu yang memilih menjauh dariku, meninggalkanku sendiri.
Masa Lalu memilih muncul di siang hari ketika aku sedang tidak awas, aku menyesal lengah begitu saja.
Beruntung ego menghalangiku untuk tidak menangis, aku menekan diriku. Menekan begitu hebatnya hingga dadaku terasa sesak.

Bayangan tentang orang itu muncul perlahan, ketika dia tertawa, ketika dia menunggu. Aku mengingat wajahnya dengan jelas. Aku menahan diriku, menekan diriku dan menghalangi ingatan yang terbuka. Ingatan yang kubuang jauh-jauh, dalam hati aku menangis. Terasa menyayat mengingatnya begitu, dia yang bahkan tidak mengingatku –mungkin- dan harapan bahwa dia juga merindukanku terpatri sangat jelas (bagiku, ini harapan sia-sia).

Aku mencoba menghempaskannya lewat ingatan terkutuk, mengingat bagaimana dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas, mengingat bagaimana dia mengganti nomornya tanpa alasan yang jelas, mengingat membatasi ruang gerak melihat medsosnya.
Aku kuat.
Aku tidak akan menangis.
Akulah manusia naïf itu.
6 bulan orang bilang adalah waktu yang sebentar, bagiku itu adalah waktu yang berharga dimana aku merindukannya, aku marah pada diriku dengan tidak bisa menahan rindu itu.
6 bulan bagiku adalah waktu waktu dimana aku menantikan bertemu dengannya.

Namun aku sadar,
Aku lebih harus menyalahkan angin yang membawaku ke hadapannya, menyalahkan cahaya yang membuatnya lebih bersinar.
Aku hanya harus menyalahkan diriku.

Akulah yang membuatnya menjauh, akulah yang bermasalah.

Dengan begini apakah bisa, Cinta?

Rasa percayaku pada Cinta mulai pudar, hatiku tidak lagi berasa dan menjadi hambar. Rajutan demi rajutan membentengi kepercayaanku.
Aku tidak lagi percaya. Rasa takut dia yang bersamaku akan meninggalkanku. Rasa cemas bahwa hal-hal seperti ini akan menyakitiku. Aku takut pada Cinta.
Aku takut pada dia yang mencintai.
Aku takut pada kepercayaan itu.

Gemetar aku dibuatnya, seribu kata yang kutorehkan tidak membantu.
Titik itu akan kembali, menekanku lebih keras dan aku harus menghadapinya kali ini lebih keras.
Aku ingin menangis, tapi tidak bisa.
Aku ingin berteriak, tapi tidak bisa.
Aku ingin meronta, tapi tidak bisa.
Semua yang bisa kulakukan hanya menatap langit beratapkan bintang.
Mengeluh pada Tuhan.

Hati ini terlampau sakit dengan kenangan itu, apakah aku masih sanggup membuat kenangan itu kembali?
Kenangan yang dibuat dengan indah namun tiba-tiba menarik dirinya keluar dari relung hatiku.
Aku sakit, sedih.
Aku berada dalam titik dimana aku tidak sanggup lagi.
Aku mulai meragu,
Aku meragu pada Tuhan.
Benarkah jodoh itu sudah ditentukan?
Benarkah ada orang yang pantas untukku menurut kuasaMu Tuhan?
Benarkah dia akan datang di waktu yang tepat menurut kuasaMu?

Apa yang harus kulakukan, aku sudah tidak kuat lagi merangkai kata indah dan manis untuk menguatkan diri.
Bisikan orang-orang itu sudah mulai seperti teriakan,
Pandangan orang-orang itu sudah mulai seperti pisau tajam,
Aku teriris, selama ini aku hanya melarikan diri.
Akankah aku terus berlari?

Cinta,
Kapan datang?
Aku butuh diselamatkan.

No comments:

Post a Comment