Siapa sih yang gak mau punya rumah yang mapan? gak usah besar apalagi megah yang penting waktu hujan gak kebasahan sampe sakit, waktu mentari lagi diskon gak kegosongan. Yang penting bisa buat ngehalangin angin dingin menusuk tulang dan sinar mentari yang ngebuat rambut jadi bule.
Dia bilang rumahnya yang penting layak ditempatin buat anak-anak dan terutama istrinya.
Dia bilang ini impiannya, mungkin sekarang harus ngebagi dana yang ada dengan pendidikan anak yang gak kalah pentingnya tapi juga untuk rumah yang emang diidam-idamkan.
Namanya Lik Yono, saudara gue yang sejak kecil selalu temenin gue main dan juga ngebantuin dalam proses pembangunan rumah yang sekarang gue tempatin, yang sekarang menjadi tempat berlindung gue dari bahaya cuaca. Dia adalah adik dari pihak ibu dan sejak menikah menetap di Bekasi. Pasangan muda yang merintis kehidupan bersama, mulai dari nol. Gue rasa mulai dari nol banget. Awalnya mereka ngontrak, Lik gue kerja sebagai buruh serabutan dan istrinya buka warung dikontrakan yang dihuninya. Yang bikin gue bangga adalah Lik gue selalu bekerja tanpa pernah pantang menyerah, bekerja demi istri dan anak dirumah, dia naik sepeda dan kerja didaerah cacing (gue aja yang naik motor kadang butuh waktu sejam lebih apalagi dia yang naik sepeda? superman banget gak sih Lik gue satu ini?) Istrinya menyulap kontrakan seadanya menjadi sebuah warung yang selalu dilengkapi barang dagangannya guna menyenangkan pembeli. Anaknya ada 4 tapi percayalah dari anak 1-3 semuanya berprestasi, gue aja sampe terharu mereka selalu dapet rangking (yang keempat gak gue sebutin karena masih belum sampe umur 5 tahun, tapi si kecil Aira ini selalu mendapatkan rejeki berlimpah dari tetangga. Sungguh terberkati banget deh..).